Februari 26, 2009

Hima.020A Perjuangan Hidup dan Mati (first step)

Hari ini adalah hari yang sangat penting buat salah satu murid kelas 3D. Seorang gadis ayu bertubuh sedang-sedang saja dengan tinggi sedang-sedang saja akan segera mempertaruhkan hidup matinya. Penelitian yang dilakukannya selama satu tahun akan dipersentasikannya hari ini di depan empat orang penguji. Detik waktu berdetak lebih lambat dari biasanya, tapi degup jantung perempuan itu berpacu lebih cepat secepat kuda pacu.


Dari ruang guru muncullah sesosok pria tegap dengan tongkat sihir di tangan kanannya, laporan penelitian di tangan kiri. Langkahnya yang berat diiringi dengan aura kelam yang dibawanya, seakan-akan ada sebuah awan mendung yang setia berada di atas kepalanya. Di belakangnya seorang laki-laki dengan aura putih mengikuti dengan langkah ringan nyaris tak terasa kalo dia berjalan di atas tanah. Seakan-akan dia melayang di dalam cahayanya. Seorang lagi keluar dari ruang guru, seorang wanita setengah muda yang juga belum bisa dibilang tua. Masih dengan baju kerjanya yang ngepink ria, ia berjalan bak peragawati, kanan, kiri, kanan, kiri. Terakhir tapi pasti, sesosok malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan menapakkan kakinya satu per satu menuju kelas tempat gadis ayu bertubuh sedang-sedang saja dengan tinggi sedang-sedang saja yang sedang menanti dalam kegelisahan.

Tapi tokoh utama kita kali ini bukanlah gadis itu (sorry lho ya, Sit!) melainkan ketiga makhluk yang sedang mendongkrok di kursi paling belakang. Niat mereka mulia, pengen ngasi semangat buat Siti yang persentasi hari ini (niat sih ada, tapi liat aja nanti).

Hampir 15 menit Siti mempersentasikan hasil penelitiannya, sesi tanya jawab pun dimulai. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan, tapi tidak semua bisa ditangkap Siti, sebagian out. Sesekali Prof. Snape mengayunkan tongkat sihirnya, dengan kemampuan yang dimilikinya Siti berusaha menghindari serangan demi serangan. Saat pertarungan tengah sengit, pak Asep dengan aura kasihnya berusaha menengahi.

Tokoh utama kita kali ini, tiga orang yang lagi ngejogrok di kursi barisan paling belakang, suer. Untung aja hari ini Prof. Umbridge baru sakit tenggorokan jadi pertanyaannya dititipin ke Ryan sensei semua. Dan dengan suaranya yang easy listening, Ryan sensei memberikan semua pertanyaan dari Prof. Umbridge ke Siti yang kemudian diterima Siti dengan senang hati terus disimpan di dalam tas baik-baik.

Ayunan tongkat sihir Prof. Snape kadang-kadang mengenai muka Ryan sensei yang bikin Ryan sensei jadi sewot. Suara Ryan sensei yang sewot dikira lagi ngeledek Prof. Umbridge yang suaranya jadi aneh gara-gara sakit tenggorokan. Prof. Umbridge yang nggak terima diledek, mengayunkan tongkat sihirnya ke arah Ryan sensei, dengan cerdik Ryan sensei mundur menghindar, alhasil kilatan kecil dari tongkat sihir Prof. Umbridge hanya melintas kurang dari 1cm di depan idung Ryan sensei dan mampir tepat di idung Prof. Snape. Seketika itu juga pakaian Prof. Snape yang berupa jubah hitam panjang berubah jadi baju nenek-nenek berwarna ungu dengan pita panjang yang menjuntai dari atas tumpukan renda-renda putih ala bangsawan borjuis di atas dada. Melihat ketiga orang rekannya malah sibuk mengurusi masalah mereka sendiri sedangkan Siti malah mainan solitaire di laptopnya, pak Asep mulai mengeluarkan dragon voicenya. Bukan cuma ketiga orang rekannya dan Siti yang terhipnotis dalam ketakutan yang mencekam, tapi tiga orang yang jadi tokoh utama di cerita ini juga tersentak kaget melihat pak Asep mengeluarkan dragon voice dengan gayanya yang santai abis, bukan kaget sama dragon voicenya tapi sama gayanya yang santai abis.

(Masih lanjut… Kan tokoh utamanya lom keluar…)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar