Februari 06, 2009

Hima.013A Misteri 69 (session 1)

Masih ingat kan nilai ujian IAD anak-anak yang cuma 69?! Dari mana mereka bisa dapat nilai segitu, bukan cuma kita yang bingung, mereka juga bingung, guru-guru mereka juga bingung, tetangga mereka juga, bahkan pak RT mereka juga bingung. Dan karena banyaknya request yang minta dijelasin kenapa mereka bisa dapat nilai segitu, dimulailah petualangan mereka mencari kebenaran.

Setelah 1 minggu berlalu, barulah Phoo, Aan, Lilin, Nite, Oguri ma Kamenashi menyadari sesuatu yang membuat mereka bisa tidur nyenyak selama 1 minggu ini.

“Kalian sadar nggak sih?” tanya Lilin.

“Apa?” anak-anak yang sedang asyik bertanding ‘siapa cepat ngabisin permen’ menengok dengan serentak ke arah Lilin.

“Sadar apaan? Jangan horor gitu ah, Lin!” kata Phoo.

“Iya nih tau, mentang-mentang sekarang kita lagi di dalam ruang kosong.” Tambah Sano.

“Ruang kosong… yang nggak ada nyala lampunya…” Kamenashi juga ikut-ikutan.

“Cuma kita bertujuh…” lanjut Aan.

“Ditemani bangku-bangku kosong di ujung sana…” Akanishi bicara dengan suaranya yang dalam.

“Cuma satu… bangku kosong yang ada di BELAKANGMU!!!” teriak Nite. Lilin yang ketakutan setengah mati cuma bisa misuh-misuh setelah reflek lompat setinggi 30 cm dari tanah. Oguri merasa rekor lompat tingginya tersaingi.

“Heh! Tolong ya!”

“Iya Lilin… tolong apa?” tanya Phoo.

“Nggak penting tau!!! Kalo jantungku copot gimana?”

“Ya, dipasang lagi.” Kata Nite dengan wajah innocent bak malaikat tak bersayap tak cemerlang turun dari langit ketujuh.

“Hasil ujian IAD yang minggu lalu itu, kalian liat lagi nggak?” tanya Lilin.

“Nggak!” anak-anak 3D emang paling kompak.

“Punyaku kemana ya…”

“Punyaku dah jadi bungkus roti…”

“Punyaku dah meluncur dengan indah ke dalam tong sampah…”

“Punyaku masih tersimpan rapi di tumpukan kertas-kertas bekas…”

“Punyaku, kayaknya masih di dalam tas deh… tunggu bentar…” Phoo mulai mengobrak-abrik isi tasnya yang kayak kantong ajaibnya Doraemon. Satu per satu barang-barang dari tasnya dikeluarkan, mulai dari kamus, buku catatan, buku pelajaran, sampe buku resep. Masih belum ketemu yang dicari, Phoo ngeluarin lagi barang-barang yang lain, dari CD-CD, seragam olah raga, sepatu, bantal kecil, sabun mandi, odol, sikat gigi sampe barbell tangan. Anak-anak yang lain mulai tahu alasannya kenapa lemarinya Phoo nggak terlalu banyak barang. Barulah selembar kertas putih nongol di belakang cermin bulat diameter 20 cm.

“Nah, ini dia…” bersama-sama mereka bertujuh mengamati lembar jawaban Phoo.

Bagaikan gunung yang menjulang tinggi, bapak adalah orang yang tidak gentar melawan pak guru Gai. Bagaikan air yang mengalir di sungai, bapak selalu berbicara kesana kemari tanpa koma. Dan bagaikan pohon yang rindang, bapak selalu memegang teguh omongan bapak meskipun itu salah, karena guru adalah yang paling benar. Bapak yang seperti itulah yang sangat saya suka.

“Kok bisa dapet 69 ya… perasaan benar semua.” Phoo mulai membela diri.

“Nggak usah pake kata semua, kenapa?! Pertanyaannya kan cuma satu.” kata Lilin. Mata mereka menatap kembali pertanyaan yang cuma satu kalimat di tepi atas.

Deskripsikan betapa cintanya kalian terhadap saya yang diwakilkan dengan alam.

Oguri yang dari tadi belum mau berkomentar juga mengeluarkan kertas hasil ujiannya.

Bapak adalah guru yang paling saya hormati karena tiap pagi bapak selalu sarapan bubur, makanan yang cuma bapak seorang yang mau menyentuhnya. Bagi saya bapak adalah orang yang berjiwa pantang mundur, meskipun cintanya ditolak, bapak mencari mbah dukun, mengguna-gunai anak orang.

Terhenyak. Itulah yang saat ini dirasakan oleh anak-anak yang lain. Bingung mau berkata apa, mereka lebih memilih kembali membahas jawaban anak-anak yang lain.

“Terus, jawaban kalian gimana?” tanya Phoo ke arah Aan, Kamenashi, Lilin, ma Nite.

“Mmmm... kalo aku sih, nggak aku isi.” Jawab Nite.

“Sama.” Jawab Kamenashi, Aan, ma Lilin serentak.

“Nah, makanya itu, yang aku heran itu, kan nggak diisi, kok bisa dapat 69 bukannya 0.” Kata Lilin.

“Iya ya…” sekali lagi, mereka serentak menjawab.

“Kalo itu sih, aku sudah tanya. Katanya dia males repot kalau ditanya sama kepala sekolah kenapa kita dapet 0.” Jawab Nite sambil mengingat kembali gaya pak Hatake saat menjawab itu.

Aho.. aho.. aho.. (suara gagak, red)

Dasar kelas bahasa Jepang, nggak cuma guru-gurunya aja sampai gagak yang keliaran di sekitar kelas juga diimpor langsung dari Jepang.

“Akanishi, kok kamu bisa dapat 70?” tanya Kamenashi penasaran. Tapi tak satu patah kata pun yang keluar dari mulut Akanishi.

“A..ka..ni..shi…” Nite, Phoo, ma Aan mendekati wajah Akanishi.

“Jangan-jangan beneran kamu jawab?” tanya Aan. Akanishi mulai salah tingkah menandakan jawabannya.

“Ooowwww….” Anak-anak yang lain bergantian tersenyum nakal.

“Woi, ini udah jam 10 lebih kan. Tapi kok gurunya belom dateng? Anak-anak yang laen mana?” tanya Akanishi mengalihkan pembicaraan.

“Iya nih, wah, nggak sopan, udah telat 30 menit juga…” omongan-omongan serupa bertebaran dari mulut mereka, tanpa mereka sadari, seharusnya mereka pindah kelas.

Sementara itu di kelas yang lain,

“Ratna, kamu tau dimana ketujuh anak yang lain?” tanya pak guru.

“Nggak tahu, pak. Pelajaran yang tadi sih, mereka ada.” Jawab Ratna.

“Jadi, mereka bolos lagi…???”

* * *




Tidak ada komentar:

Posting Komentar