Februari 06, 2009

Hima.010 Bad Day (part 1)

Lilin naik tangga sambil berlari tanpa sempat menghitung jumlah anak tangga. Gara2 ulah satu orang anak bernama Nite, yang semalem dengan tanpa dosa mencampur makanannya dengan saos sambal sebotol, sejak bangun tidur pagi tadi Lilin mesti bolak-balik ke kamar mandi 100 kali lebih.


Dan seperti yang sudah bisa diharapkan Lilin dari teman2 sekamarnya, gak ada satu-pun dari mereka yang mau bersusah-payah menunggu dan bersedia telat bersama karena jam pertama hari ini adalah Pancasila.

Meski mereka sepakat buat menyatakan pendapat bahwa pelajaran itu sama sekali gak penting dan gak ada gunanya, (toh mereka juga sudah amat sangat nasionalis, meski terbukti bahwa gak ada satupun yang hapal urutan pancasila dan UUD 45, juga fakta bahwa mereka lebih memilih mempelajari all about Jepang daripada all about Indonesia, tapi mereka sudah cukup sadar diri untuk sekedar tahu bahwa mereka merupakan bangsa Indonesia) tetep aja gak ada yang mau telat di jam pelajaran satu itu.

Bukan, bukan karena suka, kan tadi dah dinyatakan dengan jelas klo mereka gak peduli sama tuh pelajaran. Yang mereka peduliin adalah guru-nya. Bukan, bukan karena gurunya keren, soalnya guru-nya cewek, percuma juga dikecengin, tapi karena tuh guru satu beda dari yang lain.

Gemuk, pendek, suaranya kecil tapi melengking, cerewet, klo pake parfum sebotol, sangat amat nasionalis, dan ini yang paling penting, sudah amat sangat terkenal sadis klo menghukum anak yang berani2 menyepelekan pancasila. Namanya, Prof. Dr. Dolores Umbrige S.H, M.H.

“Akanishi” seru Lilin saat melihat sosok manusia primitif yang juga sedang berlari di depannya

Disebut primitif karena dia nomaden, gak pernah menetap di satu tempat klo duduk. Gak terima tiap hari pindah tempat duduk, bahkan waktu ganti jam pelajaran, pindah kelas, sampe pindah sekolah tetep aja tuh satu anak gak pernah bisa konsekuen mo duduk di mana. Klo di tanya kenapa, jawabannya selalu ‘kita-kan harus melestarikan kebudayaan nenek moyang, salah satunya ya nomaden itu’

“telat juga ?” kata Lilin setelah mereka jadi sejajar, kayak orang lagi lomba lari 100 meter. Yang ditanya cuma nyengir tanpa dosa.

Akanishi membuka pintu ruang kelas pelan2, hampir tanpa suara, kemudian menyusup melalui celah sebesar 30 cm sambil merangkak. Lilin ngekor di belakangnya.

Dini, Siti ma Aan yang memang duduk di barisan paling belakang cuma bisa ngeliat 2 penyusup dadakan sambil terima aja di pelototin ma Akanishi n Lilin biar gak ribut supaya aksi penyusupan mereka sukses.

“aman, kayaknya lagi keluar si nenek sihir satu itu, gak ada tuh di depan” bisik Akanishi sambil berdiri.

Emang yang ada di depan cuma 3 orang anak, satu cowok yang sibuk nulis entah apa di bawah tatapan najis 2 orang cewek di kanan-kirinya.

“ngapain masih jongkok gitu ?” kata Akanishi yang baru nyadar klo anak buahnya masih tetep jongkok sambil ngeliat Oguri dengan rasa takut yang amat sangat

“emang Oguri nakutin yah ? kok sampe segitunya, kayak ngeliat setan aja” Akanishi ikutan jongkok di samping Lilin, sapa tahu dari sudut itu Oguri emang keliatan nyeremin.

Yang diliatin cuma diem sambil ngomong kata fav. yang ada di urutan paling atas kamus-nya ‘baka’ tanpa suara.

“gak nyeremin ah, mukanya kan emang gitu” Akanishi masih gak ngeh sama sikon, padahal Oguri dah ngasih tanda dengan semangat 45 mpe matanya mpir lepas.

"napa sih ? ntar melar nih" protes Akanishi yang lengan bajunya mulai ditarik-tarik Lilin.

"nengok belakang sana, leher-ku mendadak kram, gak bisa buat nengok, kayak-nya bakal ada badai besar deh" guman Lilin ngeramal ala nostradamus

mendadak prasaan Akanishi jadi ikut gak enak, pelan2 dia nengok ke belakang. pertama yang diliatnya adalah sepasang sepatu pantofel hitam dengan hak setinggi 15 cm. sambil menelan ludah, Akanishi mengakat kepala sama pelannya, malah lebih pelan, sampai akhirnya berekspresi seperti ngeliat setan, iblis, shinigami, raja kematian de-el-el yang lagi ngumpul rapat menentukan kapan hukuman matinya dilaksanakan.

"setelah pelajaran selesai, kalian berdua temui saya di ruang guru" kata Prof. Dr. Dolores Umbrige dengan suara melengking tinggi bak penyanyi opera.

***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar