Agustus 27, 2009

Hima2.006 Reunian euy...

Di langit biru, matahari sudah menggantung. Panas sudah merajalela. Tapi atmosfer di dalam kedai Poedinkoe jauh dari panas. Sangat amat dingin. Apa bos Olga pelitnya udah ilang n sekarang beli AC ya…
“Nggak mungkin… daripada pasang AC di sini, mending pasang di kamar sendiri…” kata bos Olga yang kamarnya cuma pakai kipas kitir-kitir.

Di dapur, Aan mengaduk sop jagungnya dengan kecepatan yang sama sementara matanya menatap kosong ke dalam panci.
Akanishi duduk di meja kasir sambil ngemut lollipop yang udah dua jam lebih nangkring di sana.
Lilin dengan setia nungguin lollipopnya Akanishi jatoh biar bisa disikat.
Kamenashi nyapu lantai di tempat yang sama dari tadi, sampai-sampai tuh lantai kinclong abis. Bisa buat ngaca.
Phoo berdiri di depan cermin, tangan kanannya megang lap, tangan kirinya megang semprotan kaca. Semprot. Lap. Semprot. Lap. Sudah ratusan kali dia kayak gitu, sampai kacanya nggak tahan buat retak.
Nite nyalurin bakatnya gratisan buat nggambar muka mereka bertujuh di tembok kedai. Matanya nggak mau lepas dari gambar muka Kamenashi yang digambar paling sempurna.
Oguri ngebantuin Nite buat ngecat backgroundnya pakai warna item. Biar bernuansa gothic katanya.
Mereka bertujuh lagi aneh? Nggak. Mereka normal kok. Terlalu normal malah kalau inget batas kenormalan mereka yang melenceng dari manusia pada umumnya…
Bos Olga mengamati dari kejauhan.
“Hmmm…”
Tangan kanan bos Olga menopang dagunya.
“Hmmm…”
Radar indera keenam bos Olga mencium ada sesuatu di antara mereka. Memang sih, sehari-hari mereka emang aneh. Tapi ini lebih aneh, nggak kayak biasanya mereka diam hening kayak gini. Keanehan di dalam kenormalan mereka kalau menurut istilah bos Olga.
“Jangan-jangan gara-gara itu…” mata bos Olga melirik ke arah sebuah kartu yang tergeletak tak berdaya di atas meja.
Di atas kartu itu tertulis ‘UNDANGAN REUNI UNDIAN H.S.’ Kartu itu sesekali mengeluarkan petir berwana biru. Dari kartu itu keluar aura-aura negatif yang membuat satu ruangan menjadi dingin dan gelap. Terpaksa deh bos Olga nyalain lampu cadangan biar terang, karena satu-satunya lilin di ruangan itu menolak keras buat dinyalain. Pemborosan, keluh bos Olga.

“Datang nggak…” tanya Aan. Mereka bertujuh duduk melingkari kartu undangan yang nggak tahu gimana caranya tiba-tiba ada di dalam kedai Poedinkoe pagi-pagi tadi.
“Nggak usah yuk…” jawab Lilin. Mendengar kata-kata Lilin, tuh kartu langsung mengeluarkan petir berwarna biru, menyambar Lilin. Enam orang yang lainnya langsung menelan ludah bareng-bareng.
Mata Oguri menatap kalimat kecil yang berada di pojok kiri atas kartu. ‘Kalian wajib datang!’
Yang jadi masalah adalah kalimat itu ditulis secara khusus sama mantan guru kesayangannya Oguri, yang tak lain dan tak bukan adalah prof. Snape.
“Kata ‘wajib’-nya pakai hurup capital…” kata Nite.
“Capital, Bold, Italic, Underline…” Akanishi melengkapi.
“Belum lagi stabillonya, merah darah…” tambah Kamenashi.
Sekali lagi mereka menelan ludah bersamaan.
“Kenapa sih kalian… khan asyik reunian… bisa ketemu teman-teman…” kata Phoo yang dari tadi cuma ikut-ikutan nelan ludah biar dibilang setia kawan.
“Reunian sih emang asyik, tapi kalau nggak pakai ini…” jawab Oguri sambil nunjuk kalimat dari prof. Snape yang sarat hawa pembunuhan.
Kalimat itu sesekali mengeluarkan kilatan-kilatan petir yang siap menyambar siapa saja yang berniat untuk nggak datang.

Setelah bersemedi 3 hari 3 malam di bawah pohon toge, setelah 3 hari bikin bos Olga bingung melihat mereka, akhirnya mereka memutuskan untuk datang ke reunian nanti malam.
Dan malamnya.
Langit tampak tak bersahabat. Awan gelap menggumpal, kayak arum manis. Bintang-bintang memilih bersembunyi di balik awan. Bulan pun tak menongolkan idungnya.
“Andai bulan bisa ngomong…” kata Phoo sambil melihat ke atas. Fenomena aneh. Langit mendung cuma ada di atas sebuah bangunan yang bertuliskan ‘MUSEUM’. Sedangkan langit sekitarnya tampak cerah-cerah aja, dihiasi bintang-bintang yang tersenyum kepada sang bulan.
Mereka bertujuh berbaris di depan pintu masuk. Meskipun jam reuninya jam 10 malam, tapi mereka sudah dari jam 8 tadi mereka datang dan terpatung di depan pintu masuk. Hebat…
“Ngapain kamu tepok tangan?” tanya Akanishi pada Lilin.
“Nggak. Jarang-jarang aja kita in time kayak gini…” jawab Lilin. Mendengar secuil bahasa Inggris keluar dari mulut Lilin, anak-anak yang lain tambah bergidik bulu kudunya, malam yang mengerikan…
“Aku nggak bisa ngebayangin kalau kita datangnya telat…” kata Nite. Kamenashi dan Akanishi mengangguk setuju.
“Silahkan duluan…” kata Oguri pada Aan karena merasa Aan lah yang paling tua.
“Nggak mau, kamu duluan…” kata Aan sambil mendorong Akanishi.
“Ladies first…” Akanishi mempersilahkan Lilin untuk masuk.
Kamenashi, Nite, Phoo, Aan, dan Oguri saling lihat-lihatan.
“Ladies? Kamu nyuruh siapa?” tanya Phoo polos.
Kamenashi melangkahkan kakinya ke depan. Keenam temannya yang lain tepok tangan.
“Pahlawan kita…” kata mereka kompak.
“Nggak, kakiku cuma kesemutan…” kata Kamenashi menarik balik kakinya.
“Cih…” kata Lilin.
Tiba-tiba dari belakang,
“Ngapain kalian lama-lama di sini?”
“Wuaaa!!!” teriak mereka bertujuh kaget mendengar suara dari belakang. Mereka pun kompak menoleh ke belakang.
“Ryan sensei…” kata Aan, Phoo, dan Nite terharu melihat satu mantan gurunya itu.
Dengan gerakan slow motion, mereka bertiga merentangkan tangan untuk melepas rindu kepada Ryan sensei. Dengan gerakan the flash, Ryan sensei menangkis mereka bertiga dengan raket nyamuk yang dia bawa. Pok… pok… pok…
Lilin yang nggak ikut-ikutan, ketawa ngeliat ketiga temannya ditolak mentah-mentah. Tiba-tiba ada sebuah sepatu kaca melayang ke jidat Lilin. Duakk… pryangg…
“Sepatu kacaku…” tangis Phoo melihat sepatu kacanya pecah setelah beradu dengan jidat Lilin. Sedangkan Lilin mengelus-ngelus jidatnya yang benjol kena hak sepatu kacanya Phoo.
“Ngapain kalian berdiri saja? Ayo masuk!!” kata Ryan sensei sambil mendorong mereka bertujuh untuk masuk ke dalam.
Dan begitu pintu museum itu dibuka…
Kyaaa… kyaa… kyaa…
Dan masih banyak ‘kya’ lagi.
“Nani ga…” kata Akanishi yang sok pakai bahasa Jepang dengan logat Amerika, jadi kayak Cinta Laura.
Mata mereka terkagum sekaligus heran sekaligus takut melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Dari lorong, keluar fosil dinosaurus yang tingginya nggak kalah tinggi dari Tugu Muda sedang mengejar-ngejar tulang yang dilemparkan oleh seorang koboi yang tingginya nggak beda jauh sama jari jempol Oguri.
Dari koridor ada mumi yang lagi jalan-jalan bareng sama manusia purba. Mereka lihat-lihat lukisan monalisa yang nutupin idungnya pake sapu tangan waktu tuh manusia purba mendekat.
“Minna san!!” teriak Ratna dari kejauhan. Ratna emang sengaja manggil mereka pakai kata ‘minna’ karena malas nyebutin nama mereka satu per satu.
“Apa kabar?” tanya Aan yang menghampiri Ratna kemudian saling cipika cipiki kayak ibu-ibu arisan disusul Phoo sama Nite. Tapi nggak sama Lilin, bukan muhrimnya katanya…
“Apa kabar kalian?” tanya Nia.
“Bae…” jawab Phoo sambil nerusin cipika cipiki sama Nia, Dini, Pipit n Dexter. “Lho? Monyet sapa nih?” tanya Phoo yang sadar kalau makhluk terakhir yang dia cium ternyata seekor monyet.
“Oh, ini… monyetnya madam Ivan…” jawab Nia yang lagi ngebarisin kutu-kutunya.
“Ruben udah punya keluarga yang bahagia sekarang…” jawab Dini yang ikut-ikutan ngitungin kutu-kutunya Nia. Kalau satu kutu bisa dijual 1000 perak, semuanya jadi berapa ya, pikir Dini.
“Sekarang kalian kerja dimana?” tanya Pipit yang dari tadi megangin perutnya terus.
“Kita?” tanya mereka bertujuh barengan.
“Aku sih kerja di toko keluargaku…” jawab Kamenashi gugup.
“Aku juga kerja di toko kainnya Kamenashi…” jawab Akanishi.
“Aku kerja di rumah aja… jadi penulis lepas gitu…” jawab Phoo.
“Aku kerja di warung warisan ibuku…” jawab Aan.
“Aku kerja di warnet…” jawab Lilin.
“Aku kerja di firmanya ‘pak-ku…” jawab Nite.
“Aku nemenin mereka berenam kerja di kedai Poedinkoe sambil ngelamar-ngelamar…” jawab Oguri. Enam pasang mata langsung mendelik ke arah Oguri.
“Lho? Kalian nggak ikutan magang?” tanya Nia.
“Magang? Magang apa ya?” tanya Phoo pura-pura nggak tahu padahal emang nggak tahu.
“Magang di Jepang… aku aja magang di perusahaan Kabuto…” jawab Ratna.
“Kan abis wisuda kita kumpul di sekolah buat pembagian tempat magang…” jawab Pipit yang waktu itu nolak buat magang kerja dan lebih milih nikah aja…
[jadi, selama ini aku kerja rodi di warung tanpa bayaran, mereka enak-enakan magang di Jepang…] batin Aan.
[selama aku jual suara dan tubuhku…] batin Kamenashi.
[selama aku jadi pesuruhnya Kamenashi…] batin Akanishi.
[selama aku mbusuk di rumah…] batin Lilin.
[selama aku berubah jadi Cinderela…] batin Phoo.
[selama aku nonton anime terus…] batin Nite.
[…] batin Oguri yang nggak berani mikir karena takut diplototin lagi.
“Kalau cuma di dalam hati, nggak apa-apa!” kata Aan pada Oguri.
[berarti sia-sia donk kita semua membusuk jadi pengacara…] batin Oguri.
Enam pasang mata langsung melotot ke arah Oguri lagi.
“Katanya kalau cuma di dalam hati boleh…” protes Oguri sambil jongkok di pojokan.

Drttt… drttt…
Tiba-tiba lampu di dalam gedung dengan tulisan ‘MUSEUM’ itu berkedip-kedip genit. Dan dari setiap penjuru menggema sebuah suara.
“Kalian bertujuh!! Benar-benar cari mati ya…!!!”
Kamenashi dkk saling merapatkan barisan ketakutan.
“Itu suaranya siapa?” tanya Kamenashi.
“Suaranya Dexter!” jawab Nite sambil nunjuk ke monyet yang masih nangkring di pundaknya Phoo. Dexter yang nggak tahu apa-apa cuma bisa geleng-geleng.
“Poltergeist…” jawab Lilin yang udah mau ngeluarin boneka voodoo-nya.
“Suaranya mbah Surip!” jawab Phoo dari belakang punggungnya Kamenashi.
“Bukan… itu suaranya…” kata Aan.
“Suaranya siapa?” tanya Akanishi penasaran. Yang lainnya juga ikutan penasaran.
“Suaranya…” jawab Aan terbata-bata. Aan narik tangannya Oguri yang masih betah ternak jamuran di pojokan. “Suaranya siapa?” tanya Aan pada Oguri.
“Suaranya prof. Snape…” jawab Oguri datar.
Tiba-tiba lampu di dalam ruangan itu mati semua, menyisakan sebuah lampu sorot yang menyorot sosok prof. Snape dalam balutan kain kafan, eh maksudnya jubah item. Kemudian tanpa kata-kata, prof. Snape mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk ke arah mereka bertujuh.
“Kita disuruh ngikutin dia…” kata Kamenashi.
“Sugee…” kata anak-anak yang lainnya sambil tepok tangan. Nggak heran ni orang jadi ketua kelas mereka, emang udah dari sananya disetel pinter, prof. Snape nggak perlu ngomong juga dia tahu apa maksudnya.
Nggak mau kalah dengan prof. Snape, Kamenashi menjawab kekaguman teman-temannya tanpa suara juga, hanya mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk lurus ke depan. Mata keenam temannya mengikuti arah jari telunjuk itu, dan di ujung sana, tepatnya di sebelah prof. Snape berdiri, berdiri pula Dexter, si monyet cerdik sambil membawa kertas karton bertuliskan ‘ikuti saya!’.

Kamenashi dkk berjalan mengikuti prof. Snape ke dalam. Melewati koridor panjang. Melintasi ballroom yang luas. Masuk kamar, keluar kamar. Masuk kamar mandi, keluar lagi, salah ruangan. Sampai akhirnya tiba di sebuah ruangan kecil yang jendelanya menghadap ke ruang depan tempat mereka tadi.
“Duduk!” kata prof. Snape sambil menuju ke sebuah meja.
Kamenashi dkk melihat ke kanan & ke kiri. Tidak ada satu pun kursi atau benda yang mirip-mirip kursi. Mereka jadi bingung. Tapi bukan Kamenashi dkk namanya kalau kehabisan akal. Mereka bertujuh bagi tugas. Tiga jadi kursi, tiga duduk, satu jadi patung.
“Kalian…” kata prof. Snape yang terhenti setelah melihat mereka bertujuh dengan pose yang kurang wajar. “Kalian ngapain?” lanjutnya.
“Duduk…” kata Kamenashi yang dapat undian jadi yang duduk.
“Kalau nggak ada kursi, ya sudah berdiri saja…” kata prof. Snape.
Mereka pun berdiri kembali.
“Ini…” kata prof. Snape sambil memberikan lembaran-lembaran yang berlembar-lembar.
Kamenashi dkk mengambil kertas-kertas itu.
“Ini…” kata Phoo dengan suara penuh haru.
“Ini…” kata Aan mencoba mengulangi keharuan Phoo.
“Beneran nih…” kata Lilin dan Nite kompak. Mata mereka pun berkaca-kaca.
Sedangkan Kamenashi, Akanishi, dan Oguri tidak mengeluarkan suara sedikit pun, hanya menatap kertas-kertas itu dalam-dalam. Di depan mereka, prof. Snape untuk pertama kalinya mengguratkan senyum di wajahnya, walaupun lebih terkesan menakutkan.
“Ini apa??” tanya mereka bertujuh kompak. Kertas-kertas itu ditulis dengan menggunakan bahasa Jepang full kanji. Sudah berbulan-bulan mereka bertujuh berpisah dengan hurup kotak-kotak itu. Mereka sama sekali nggak ngerti. Saking nggak ngertinya, sampai-sampai mereka menangis terharu.
Di depan mereka, prof. Snape menghapus ‘senyum’nya.
“Dulu kalian nggak ikut magang kan?” kata prof. Snape. “Itu buat kalian. Kalian boleh nyusul magang…” lanjutnya.
Tidak percaya dengan pendengaran mereka, tapi mereka takut prof. Snape berubah pikiran. Mereka pun mengangguk bahagia…
[Jepang! Aku datang!!] batin mereka kompak…

つつく


Tolong Jangan Diklik...

Agustus 13, 2009

Hima2.005 Weekend Seru!!

WEEKEND SERU!!

Omset kedai makin hari makin mengalami penurunan drastis. Kalo gini terus lama-lama kedai bisa bangkrut.
Tiba-tiba kedai terdengar bunyi sirene tanda bahaya kebakaran. Ngebuat seluruh karyawan panik dan berjejalan ngumpul di depan mini bar.

Aan mengamankan semua peralatan dapur…
Akanishi mengamankan semua lolipopnya…
Nite mengamankan kacamata bulan separonya…
Phoo mengamankan semua puding dalam kulkas…
Lilin mengamankan dirinya sendiri…
Jun Pyo mengamankan…? Karna masih baru jadi bingung mo mengamankan apa?

“Ada apa bos?” tanya Kamenashi panik.
“Apa ada masalah bos?” tanya Oguri panik.
“Apa yang terjadi bos?” tanya Jun Pyo.
“Kalian yang ada apa?”
“Mana kebakarannya bos?” tanya Aan.
“Siapa yang bilang ada kebakaran?”
“Lha tadi bunyi alarm!” kompak semua karyawan.
“Hmm~”
Yang lain harap-harap cemas nungguin bos Olga buka suara.
“Besok kedai tutup!”
“APA??!”
“Kita di PHK!” pekik Phoo.
“Kita di pecat!” pekik Akanishi.
“Aduh, aku harus bilang apa sama ayah-ibuku… sama adik-kakakku… sama pacarku…” pekik Aan.
“Aku nggak rela dikeluarkan!” jerit Lilin.
“Susah payah aku ikut audisi ini ampe puasa nonton sinetron segala!” Nite nggak terima.
“Kira-kira kita dapat pesangon nggak, ya?” harap Phoo.
“Heh, heh! Yang bilang mau di PHK siapa?”
“Tadi bos bilang besok kedai tutup,” kata Kamenashi.
“Iya, bos emang bilang besok kedai tutup…”
“Tuh, kan benar!” kata Akanishi.
“Huwaaaaaaa….” Tangis kesedihan dari Nite, Phoo, dan Aan.
“Kedai tutup bukan berarti kalian di PHK ato di pecat!”
“Maksudnya…??!” tanya Oguri.
“Besok selama dua hari temani bos Olga mengikuti acara penting. Jadi asisten bos Olga gitu… hahaha…”
“Berarti kita nggak jadi di PHK?” tanya Phoo.
“Hmph.”
“Berarti kita nggak jadi dipecat?” tanya Akanishi.
“Hmph.”
“Berarti kita masih kerja disini?” tanya Oguri.
“Hmph. Dan, besok kumpul di kedai jam tujuh teng! Awas jangan sampe ada yang terlambat!!”
“Baik!!”
***
Besok pagi…
“Udah pada ngumpul semua?” absen bos Olga sambil ngitung.
“Kurang Aka dan Phoo, bos!”
“Kemana lagi tuh dua makhluk?”
Tepatnya jam tujuh kurang satu menit, Akanishi dan Phoo datang bersamaan.
“Heh, ini udah jam berapa?”
“Kan, janjinya ngumpulnya jam tujuh teng! Ini baru jam tujuh kurang satu menit,” polos Phoo.
“Kok kalian bisa barengan lagi?” tanya Lilin.
“Kita ketemu di warung bubur,” sahut Phoo.
Sayangnya, Jun Pyo nggak bisa ikut karna mendadak kepalanya sakit. Mungkin akibat kepentok pas kecelakaan itu. Trus lom lagi ditambah ama kepentok pintu dan kaki meja. Aduh, Jun Pyo… nasibmu malang nian…
Mini bis yang mereka tumpangi tiba di sebuah villa megah dan mewah di tepi pantai *bayangin aja rumah gedongnya Jun Pyo di BBF*.
“Kok perasaanku nggak enak, ya?” kata Nite.
“He-eh…” sahut Phoo.
“Apa kita pulang aja, ya?’ bisik Akanishi diantara Nite dan Phoo.
“He-eh, perasaanku makin nggak enak,” ujar Nite.

Seorang anak muda cute keluar dari dalam villa menyambut kedatangan bos Olga dan rombongan.
“Perkenalkan saya Teppei Koike. Saya putra pemilik villa ini,” ujar Teppei ngenalin diri.
“Saya Olga Syahputangan. Dan, ini para asisten saya.”
“Sebanyak ini?”
“Iya. Ini asisten bodyguard saya,” tunjuk bos Olga ke Kamenashi dan Oguri.
“Ekh?” kompak Kamenashi dan Oguri kaget.
“Ini asisten masak saya,” tunjuk bos Olga ke Aan.
“Ekh? Jangan karna masakanku paling enak di kedai, trus seenaknya aja ngejadiin aku asisten masak,” sahut Aan PD di belakang bos Olga. Habisnya karyawan kedai yang lain, kan nggak ada yang bisa masak. Lilin masak air aja bisa gosong gitu… *geleng-geleng kepala.*
“Ini asisten dayang-dayang saya,” tunjuk bos Olga ke Nite dan Phoo.
“Ekh?” kompak Nite dan Phoo kaget+nggak terima, malahan kedua matanya mereka hampir lepas dari engselnya.
“Ini asisten saya kala mati lampu,” tunjuk bos Olga ke Lilin.
“Ekh? Emang aku lilin?” protes Lilin nggak terima.
“Lha kamu Lilin apa bukan?” tanya Phoo.
“Aku ya Lilin,” sahut Lilin.
“Nah, berarti benar kalo kamu lilin yang dipake kalo mati lampu,” sahut Nite.
Lilin manggut-manggut setuju *duh, nih sebenarnya siapa sih yang lemot?*
“Dan, yang terakhir ini adalah asisten kuli saya,” tunjuk bos olga ke Akanishi.
“Ekh? Emang aku ada tampang kuli, ya?” Akanishi protes nggak terima.
Selesai memperkenalkan para asistennya, mereka semua dibawa ke kamar masing-masing.

Malam jam 19.30…
Selesai makan malam…
“Emang ngapain sih bos Olga ngajak kita ke villa ini segala?” tanya Aan yang belom nemuin alasan yang tepat kenapa mereka bisa diajak ke villa.
“Besok putra bungsu pemilik villa ini berulang tahun yang ke-3. Nah, bos Olga diminta jadi MC-nya, trus Kame dan Aka diminta buat nyanyi,” jelas Oguri.
“Oh, begitu…” kompak Aan, Lilin, Nite, dan Phoo.
“Trus, kita ngapain juga diajak?” tanya Aan yang masih belom nemuin alasan yang tepat.
“Wakannai…”
“Ya, ampun! Udah jam segini. Aku harus nonton Mr.X. Sinetronnya lagi seru nih…” Nite kembali ke kamar. Disusul ama Phoo, Aan, Lilin. Oguri juga kembali ke kamar.
Pas di koridor lantai dua. Mereka berpapasan ama dua laki-laki nyeremin sambil ngegendong anak kecil. Tapi, tuh anak kecilnya berontak terus minta dilepasin dari gendongan.
“PUTRA BUNGSU DICULIK!!!” teriak salah satu pelayan.
Nite, Phoo, Lilin, dan Aan hanya saling mamerin senyum termanis semuanya ke laki-laki itu.
“Turunkan anak itu!” perintah Oguri yang ‘ngeh’ kalo yang ada di depannya itu penculik.
Dua penculik itu lari sambil tetap ngegendong anak kecil itu. Oguri ngejar tuh penculik. Nite, Phoo, Lilin, dan Aan juga ikut ngejar penculik. Mesikpun Phoo mikirnya kalo mereka sedang main kejar-kejaran.
“Ada apa?” tanya Kamenashi yang baru keluar dari ruang rapat. Di belakangnya berdiri Akanishi dan bos Olga.
“Ada penculikan!” teriak Oguri.
Mereka semua ngejar penculik dengan penuh semangat. Dua penculik nggak akan bisa keluar dengan selamat kalo berhadapan dengan tujuh personil Hima Kurabu+bos Olga. Namun, mereka tiba-tiba balik badan serentak dan lari lebih cepat dari tadi. Abisnya di belakang mereka segerombolan bajak laut ngejar mereka.
Gawat!
Mereka terpisah! Terbagi jadi dua tim. Tim A yang terdiri dari Kamenashi, Akanishi, Nite, dan Lilin berbelok ke koridor kiri, sedang tim B yang terdiri dari Oguri, Phoo, Aan, dan bos Olga berbelok ke koridor kanan. Rombongan bajak laut itu pun juga terbagi jadi dua tim. Tim A akan dibimbing ama Kapten Hook. Nah, kalo tim B akan dibimbing ama Kapten Jack Sparow.

Tim A…
“Argh! Kita terpisah ama Phoo, Aan, Oguri, dan bos Olga…” teriak Akanishi masih lari.
“Gimana nih?” takut Lilin.
“Mereka pasti baik-baik aja,” Kamenashi nenangin teman-temannya.
“Argh! Aku capek…” teriak Nite, “STOP!!” perintah Nite ke arah rombongan bajak laut yang dipimpin oleh Kapten Hook.
“Ada apa?” tanya Kapten Hook bingung, garuk-garuk kepala pake tangan besinya.
“Aku capek. Istirahat bentar, ya? Ntar kalo capekku udah hilang, kejar-kejarannya kita lanjutin lagi,” usul Nite.
“Benar juga! Lagian aku juga udah capek. Anak buahku juga capek,” Kapten Hook menatap nanar anak buahnya yang kecapean.
“Kalian datang darimana?’ tanya Kamenashi penasaran.
“Kita datang dari kutub Utara,” jawab kapten Hook sambil minum anggur merah, “Mau?” nawarin ke Kamenashi.
“Oh, boleh…”
Kapten Hook ngasih gelas bening berkaki dan botol anggur merah ke Kamenashi.
“Terima kasih,” ucap Kamenashi, “Mezamero bachas…” sambil ngegoyang gelasnya pelan.
Nite ngebisikkin sesuatu ke telinga Akanishi dan Lilin.
“Idih, Nite geli tau…” pukul Akanishi pelan yang ngerasa kegelian dibisikin sesuatu ama Nite. Trus, Akanishi nransfer yang dibisikki Nite ke Kamenashi.
Nite, Lilin, Akanishi, dan Kamenashi berjalan mengendap-ngendap agar nggak ketauan ama kapten Hook.
“Mau kemana kalian? Mau kabur?” teriak kapten Hook yang udah ngerasa dibohongin.
Tanpa basa-basi lagi, Nite, Lilin, Akanishi, dan Kamenashi udah lari dengan gaya langkah kaki lima ribu.
PET!
Mati lampu
AAAAARRRRRGGGGHH!!!!
Teriakan heboh dari tim A…
“Kame! Kamu dimana?” teriak Nite sambil meraba-raba dalam gelap.
“Auw! Sakit! Siapa nih yang nginjak kakiku?” teriak Lilin.
“Aduh! Kalo jalan hati-hati dunk!!” teriak Akanishi yang jatuh ditabrak entah ama siapa?
“Maaf… nggak sengaja…” sesal Kamenashi yang udah nginjak kaki entah kaki siapa?
Lampu nyala!
Ashekkkkkk!!!
Nite salah meluk! Yang dikiranya Kamenashi tadi ternyata adalah kapten Hook.
“ARGH!!” tampar Nite ke kapten Hook.
Kapten Hook sih seneng-seneng aja dipeluk ama Nite. Malahan rencananya Nite mau diajak ke kutub Utara buat ketemu ama penguin.
Akanishi nangkring di atas meja persis kayak orang kebanjiran.
Lilin duduk di bawah sambil mijitin jempol kakinya yang bengkak kayak telor itik.
Kamenashi dipeluk ama monyet.
Si monyet berlari cepat menuju ke Nite dan ngambil kacamata bulan separo punya Nite.
“Woi! Kembalikan kacamataku!!!” teriak Nite sambil ngacungin sepatunya. Ngelempar ke monyet. Oopst! Salah sasaran. Tuh sepatu nyasar ke kepala Lilin. Yach, amnesia, deh!
Kamenashi dan Akanishi terlibat baku hantam ama kapten Hook. Ngelihat Akanishi di dorong ama kapten Hook, Lilin langsung naik pitam.
“Nakal… nakal…” pukul-pukul Lilin ke kapten Hook dengan gaya lemah gemulai.
Kamenashi dan Akanishi duduk manis ngelihatin Lilin mukul kapten Hook. Mereka berdua saling bersulang minum anggur merah.
“Woi!! Dasar monyet!! Balikin kacamataku!!” teriak Nite sambil ngelempar satu sepatunya. Oopst! Meleset. Tuh sepatu hinggap di kepala Kamenashi.
“Lho, kok kame udah mabuk, sih? Padahal baru minum satu gelas,” bingung Akanishi.
“Argh!! Kame, are you okey?” tanya Nite panik.
Si monyet diam-diam ngambil sepatu milik Nite yang tergeletak di samping Kamenashi. Trus, tuh sepatu dipukulin ke kepala Nite dan Akanishi. Pingsan, deh!!
Lilin yang ngelihat Akanishi pingsan ngejar tuh monyet.
BRUK!!
Kaki Lilin kesandung sepatu Nite yang satunya. Nah, ikutan pingsan juga, kan *sukanya ngikut-ngikut, sih.*

Sementara itu tim B…
“ARGH! Kepisah ama Kame!!” tangis Phoo.
“Mereka nggak apa-apa,” Aan nenangin sobatnya tersayang.
“Aduh, siapa sih mereka?” tanya bos Olga masih terus berlari.
“Apa mereka semua rombongan penculik itu?” tanya Oguri.
Jalan buntu!
“ARGH! Jalan buntu!!” tangis Phoo makin kencang.
“Pasti ada jalan rahasia,” Aan ngetuk-ngetukin buku-buku jarinya ke dinding.
Bos Olga panik, mondar-mandir nggak jelas. Kepalanya udah berapa kali kepentok dinding.
“Kalian udah nggak bisa lari kemana-mana lagi,” kata kapten Jack Sparow lemah gemulai.
“Om kapten sakit, ya?” tanya Aan yang ngelihat kapten Jack Sparow jalan sempoyongan.
“Sakit? Kapten Jack Sparow nggak pernah sakit,” kata kapten Jack Sparow tertawa bangga.
“Trus kalo nggak sakit, kenapa jalannya nggliyengan gitu?”
“Pasti om kapten mabuk?” tebak Phoo, ngapus ingusnya.
“Nakal, ya! Berani-beraninya mabuk… Siapa sih orang tuamu? Biar aku telpon ibumu!” tegas bos Olga mencet-mencet HP-nya.
“Jangan! Aku udah tiga kali lebaran nggak pulang kampung,” sedih kapten Jack Sparow.
“Kenapa?” kompak Phoo, Aan, dan bos Olga pengen tau. Hanya Oguri aja yang berkutat nyari ide ‘gimana caranya biar bisa lolos dari kejaran kapten Jack Sparow?’.
Kapten Jack Sparow nyeritain kisah hidupnya yang sedih dari awal ampe akhir. Ternyata kapten jack Sparow hidup dalam kemiskinan. Suatu hari seorang perompak kaya nan baik hati datang ke kampungnya. Awalnya kapten Jack Sparow nggak diijinkan ikut dalam rombongan tersebut ama mak’e. Setelah ngeyakinin mak’e selama tujuh hari tujuh malam dan pas di malam jumat kliwon itulah kapten Jack Sparow diijinkan ama mak’e.
Kapten Jack Sparow berlinangan airmata…
Phoo ngasih pinjam saputangannya ama kapten Jack Sparow…
Aan ngelus-ngelus punggung kapten Jack Sparow…
Bos Olga nangis sedih banget…
Oguri ngebisikkin sesuatu ke telinga Aan…
Diam-diam… mengendap-ngendap kayak maling… Oguri bergeser sedikit demi sedikit. Aan menarik tangan Phoo. Phoo menarik tangan bos Olga. Bos Olga menarik tangan kapten jack Sparow.
“Mau kemana kalian?” tawa nakal dari kapten Jack Sparow.
“Hehehe…” nyengir bos Olga. Mo ngacir kabur udah nggak bisa! Semuanya terkepung ama anak buah kapten Jack Sparow.
Oguri terlibat baku hantam ama kapten Jack Sparow…
Aan nyebar garam dengan ngebentuk sebuah lingkaran…
Phoo mukul-mukul kepala anak buah kapten Jack Sparow ama sandal…
Bos Olga bantu doa di pojokan…

“Phoo, AWAS!!” teriak Aan.
Plak!
Anak buah kapten Jack Sparow mo mukul Phoo, tapi Phoo jauh lebih sigap dengan mukul pake sandal kayak mukul nyamuk nakal.
Bos Olga masih komat-kamit baca doa di pojokan. Nggak nyadar tuh kalo ada seekor monyet udah duduk manis nemenin bos Olga sambil bawa sepatu.
“ARGH! MONYET!!” teriak bos Olga yang alergi berat ama bulu monyet.
Tuh monyet tersenyum manis ke arah bos Olga, dan plak! Sepatu yang ada di tangan si monyet dipukulin ke kepala bos Olga. Pingsan!
Si monyet ngelempar sepatu yang ada di tangannya mengarah ke Phoo. Untung Phoo cepat menghindar dengan nundukkin badannya. Dan, tuh sepatu mendarat dengan mulus di atas kepala Aan. Pingsan!
“Aan!!!” pekik Phoo ngerasa bersalah. Ngegoyang-goyangin tubuh Aan.
Ada yang noel-noel pundak Phoo. Phoo noleh ke belakang dan si monyet sedang tersenyum dengan muwanisnya di depannya. Memamerkan gigi putihnya yang bikin silau mata. Sedetik kemudian, Phoo nyusul Aan pingsan. Abisnya si monyet juga mukul kepala Phoo pake tuh sepatu. *pertanyaannya sekarang! Tuh sepatu punyanya siapa, sih? bikin sial aja!!*
Di tim B tinggal Oguri aja yang berjuang sendirian.
Tiba-tiba Teppei Koike datang dengan ngebawa pasukan bodyguard-nya yang berjumlah 13 orang yang diberi nama pasukan Super Junior.
“Tangkap kapten Jack Sparow dan anak buahnya!!” perintah Teppei Koike.
Para Super Junior membawa paksa kapten Jack Sparow dan anak buahnya dan dikurung di penjara Azkaban sebelum sidang digelar.
***
Keesokan harinya di villa…
Phoo dan Aan ngusap-ngusap kepalanya yang nyut-nyut gara-gara dipukul si monyet…
Bos Olga bikin sayembara berhadiah ‘siapa yang bisa menemukan si monyet bisa makan puding gratis seumur hidup di kedai…’
Oguri ngelihatin Phoo dan Aan yang duduk di atas tempat tidur dalam kondisi lemah…
“Mana yang lain?” tanya Aan ke Oguri.
“Ada di kamar sebelah,” sahut Oguri ngasihin coklat panas ke teman-temannya.
“Anak kecil itu gimana? Penculiknya udah ketangkap?” tanya Aan, masih ngusap-ngusap kepalanya.
“Anak kecil itu selamat.”
“Kenapa anak kecil itu mau diculik?” tanya Phoo, meneguk coklat panasnya.
“Kakek si anak kecil itu seorang profesor yang punya serbuk keabadian yang sedang dicari oleh para bajak laut. Makanya para bajak laut itu menculik anak kecil itu sebagai barter dengan serbuk keabadian,” jelas Oguri yang diceritain langsung ama Teppei Koike si kakak anak kecil yang mau diculik itu.
“Aku kapok liburan ke villa!!” ogah Phoo sambil geleng-geleng kepala.

つづく
Tolong Jangan Diklik...

Hima2.004 Karyawan Baru

KARYAWAN BARU

Pagi lega di kedai setelah badai besar menghantam ketakutan sebagian karyawan kedai malam itu… *cieleh bahasaku keren bo!*
Pukul 08.00…
Mereka pura-pura nggak ada apa-apa tentang kejadian tadi malam. Keadaan pagi ini normal seperti hari-hari kemaren.
Nite semalaman suntuk ngejahitin seragam baru buat Jun Pyo. Sekarang matanya udah mirip kayak bandeng mentolo.

Phoo tetep berperan sebagai ‘kucing kepala hitam’ yang suka nyolong puding di kulkas.
Aan ngatur emosinya, coz tiap kali lihat rambut keritingnya Jun Pyo bawaannya emosi.
Lilin mendadak panas dalam. Demam! Hari ini absen nggak masuk.
Akanishi nggak bisa tidur semalaman gara-gara ada makhluk asing di dalam kamarnya. Mana pikirannya ngelantur parno kemana-mana gitu…
Kamenashi dan Oguri bingung saat ngelihat adanya penambahan karyawan baru di kedai. Bukannya apa-apa sih, cuma kan nih kedai terancam bangkrut. Jadi buat apa ada penambahan karyawan baru?
“Siapa kamu?” tanya Oguri.
“Aku Jun Pyo. Sepupunya Akanishi.”
“Sepupu Aka? Setahuku Aka nggak punya sepupu,” kata Kamenashi nggak percaya.
“Oh, ini sepupuku jauuuuuuuuuh banget. Sepupu dari ayah ibunya bibiku pamannya nenekku tetangganya kakekku,” sahut Akanishi cepat.
Kamenashi dan Oguri langsung ngerutin kening. Bingung! Nggak ngerti apa yang diomongin ama Akanishi.
“Jadi, Jun Pyo ini sepupunya tetangga bibiku yang ada di desa, jadi sebelah rumah nenek…”
“OK! Kita percaya Jun Pyo adalah sepupumu,” potong Kamenashi cepat yang pusing ngedengar penjelasan Akanishi.
PLAK!!
Ada seorang cewek yang menampar keras pipi bos Olga. Spontan semua karyawan kedai pada ngumpul di mini bar sambil nonton adegan seru itu.
“Tuh cewek siapa?” tanya Aan dengan sutil di tangan kanan.
“Jangan-jangan tuh cewek pacarnya bos Olga?” sahut Phoo dengan puding di tangan kanan, dan sendok di tangan kiri.
“Nggak mungkinlah… masa sih bos Olga bisa punya pacar secantik itu?” sahut Akanishi mupeng ngelihat kecantikan tuh cewek blesteran. Nah, lho ampe ngeces gitu…
“Mungkin bos Olga berhutang banyak ama tuh cewek?” sahut Nite.
“Tuh cewek, kan nampar bos Olga, pasti bos Olga udah ngelakuin hal-hal yang nggak menyenangkan?” tebak Aan ala detektif.
“Bos Olga selingkuh!” sahut Akanishi.
“Bos Olga diam-diam nikah siri!” sahut Aan.
“Bos Olga punya kekasih gelap!” sahut Nite.
“Bos Olga anak durhaka!” sahut Phoo.
“Sttttss!! Kalo kalian berisik ntar bos Olga bisa dengar,” perintah Oguri yang ternyata juga menikmati tontonan gratis tersebut.
“Lebih baik kita diam dan lihat saja,” perintah Kamenashi yang ternyata juga menikmati tontonan gratis tersebut.
“Kalian sedang ngapain sih?” tanya Jun Pyo penasaran.
“Stttttttttttssssss!!!!” sahut semuanya kompak.
Tuh cewek blesteran kembali menampar bos Olga dan pergi. Bos Olga pengen ngejar tapi takut kalo ditampar lagi. Sadar kalo dirinya sedang diperhatiin ama karyawannya, cepat-cepat bos Olga balik badan, dan… semua karyawannya udah pada sibuk ama kegiatannya masing-masing.
Kamenashi sibuk ngelap lantai…
Oguri sibuk ngelap meja…
Nite sibuk ngelap kacamata bulan separonya…
Phoo sibuk ngelap sisa-sisa puding di mulutnya…
Aan sibuk ngelap sutil…
Akanishi sibuk ngelap iler…
Jun Pyo sibuk ngelap…? Karna masih baru jadi masih bingung mo sibuk ngapain?

Bos Olga ngelihatin satu-persatu tampang karyawannya. Tiba-tiba perhatiannya tertuju ama satu karyawan yang menurutnya masih asing di matanya.
“Siapa kamu?”
“Jun Pyo,” jawab Jun Pyo sambil menundukkan sedikit kepalanya.
“Jun Pyo siapa? Kenapa pake seragam kedai ini?”
“Saya, kan karyawan kedai ini juga,” kata Jun Pyo maskulin.
“Karyawan kedai? Aku nggak pernah mengaudisimu. Setahuku karyawan kedai ini cuma tujuh orang,” bingung bos Olga.
“Masa sih bos Olga lupa? Jun Pyo, kan karyawan kedai ini juga,” sahut Aan cepat.
“Aku belom terlalu pikun untuk lupa! Di daftar absensiku nggak ada nama Jun Pyo,” tegas bos Olga dengan melotot.
“Ada!” kata Nite. Ngambil daftar absen di ruang kerja bos Olga. Trus nyerahin ke bos Olga dan ternyata emang benar ada nama Jun Pyo di daftar absensi di urutan terakhir.
“Eh, iya ya… ternyata nama Jun Pyo ada. Kok aku bisa nggak ingat ya?”
“Sepertinya bos terlalu banyak pikiran. Lebih baik bos istirahat beberapa hari di rumah,” pesan Aan yang punya jiwa seorang ibu.
“Sepertinya aku emang harus istirahat,” bos Olga megang jidatnya, dan pamit pulang.
Nite dan Aan mengelus dada berbarengan. Lega!
Akanishi dan Phoo lebih milih nggak ikut campur, pura-pura nggak tau apa-apa, dan tutup mulut!
Jun Pyo cuma bisa senyum…
Kamenashi dan Oguri menaruh curiga dengan teman-temannya. Mereka berdua merasa ada sesuatu yang disembunyiin.
“Apa kalian nyembunyiin sesuatu?” tanya Kamenashi.
“Nggak ada!” kompak Nite dan Aan.
“Yakin nggak ada?” Oguri ngulangin pertanyaan Kamenashi.
“Yakin!” kompak Nite dan Aan.
Akanishi dan Phoo asyik makan puding. Nggak ikut campur!!
“Nite…” panggil Kamenashi manis buanget, “Benar nggak ada yang disembunyiin?”
Nite bukannya ngejawab, malah senyam-senyum genit nggak jelas gitu.
“Nite…”
“Sebenarnya…”
Aan cepat menjamit lengan Nite yang udah hampir terbang melayang oleh bujuk rayu sesaat Kamenashi.
“Sebenarnya… sebenarnya aku laper… hehehe…”
“Aku masak dulu, ya… Jun Pyo, bantu aku di dapur!” teriak Aan yang sekarang udah punya asisten pribadi.
Aan, Jun Pyo, dan Nite masuk dapur.
“Phoo…” panggil Kamenashi lebih manis lagi, bikin Phoo tambah klepek-klepek.
“Hehehe… aku nggak tau apa-apa,” nyengir Phoo. Ikut masuk ke dapur.
“Aka…”
“Aku sama seperti Phoo…” Akanishi pun nyusul teman-temannya masuk ke dapur.
Oguri yang ada di samping Kamenashi terkekeh geli.
“Sepertinya ada yang mereka semua sembunyiin,” Kamenashi masih menaruh curiga.
“Meskipun ada yang disembunyiin, ada kalanya rahasia itu nggak mau dibagi,” kata Oguri menepuk pelan pundak Kamenashi. Ikut masuk ke dapur.

Kamenashi masih penasaran dan curiga dengan sikap teman-temannya yang terlihat aneh. Apalagi bila ditanya tentang Jun Pyo pasti jawabannya nggak ada yang sama dan slalu berubah-ubah. Akhirnya Kamenashi memutuskan untuk nyari tau sendiri. Sendirian pergi ke rumah Akanishi, eh ternyata rumah Akanishi kosong nggak ada orang. Akanishi dan Jun Pyo nggak tau pergi kemana? Orang tua Akanishi juga sedang pergi ke desa.
***
Besok paginya…
Kamenashi benar-benar menaruh curiga besar ama teman-temannya. Apalagi ama tuh cowok berambut keriting yang bernama Jun Pyo. Dari tadi terus aja melototin Jun Pyo dari ujung sepatu ampe ujung rambut keritingnya. Mungkin Kamenashi ngerasa kalah ganteng kali ya? *uwakakakak…*
“Jangan dipelototin terus!” canda Oguri berdiri di sebelah Kamenashi. Tangannya sibuk ngelap meja mini bar.
“Sttss!!”
“Masih penasaran?”
Kamenashi mengangguk.
“Pasti ada yang mereka sembunyiin!”
Kamenashi terus mandangin Jun Pyo tanpa kedip sedetik pun…
Akanishi duduk sambil mainan PSP…
Lilin masih belom masuk. Setiap kali ngelihat Jun Pyo pasti bakal nangis histeris menyayat hati. Lagian kedai juga sepi jadi nggak masalah.
Aan dan Phoo baru aja datang dari pasar. Keduanya naik becak.
Phoo nampak tergopoh-gopoh ama barang belanjaannya.
“Jun Pyo!” teriak Aan dari luar minta bantuan.
“Sini! Biar aku yang bawakan,” kata Oguri ngasih bantuan dan ngebawain semua barang belanjaan di tangan Phoo.
“Oh, makasih…”
Kamenashi masih terus aja merhatiin Jun Pyo yang sedang ngebawain barang belanjaan Aan.
“Kame, weekend ini ada acara nggak?” tanya Nite tiba-tiba nongol di samping Kamenashi.
“Oh, ya ampun! Nite kamu ngagetin aku.”
“Kaget, ya? Maaf ya… kalo nggak ada acara kita nonton yuk…”
“Maaf, aku udah ada janji ama Aka.”
“Ikut donk!” pinta Phoo tiba-tiba nongol di depan Kamenashi
“Oh, ya ampun!!”
Nite dan Phoo saling tersenyum dan tebar pesona di hadapan Kamenashi.
Ternyata Nite dan Phoo masih tetap sama seperti dulu. Suka ngerecokinya!
Huh—, Ya Tuhan! Kapan hidupku akan tenang tanpa gangguan dari Nite dan Phoo? Aku harap mereka berdua menemukan pasangan yang tepat untuk mereka. Aku harap itu bukan aku…, doa tulus Kamenashi dalam hati.

つづく
Tolong Jangan Diklik...

Hima2.003 Amnesia

AMNESIA!!

Hari ini kedai heboh dengan teriakan dari bos Olga. Semua karyawannya di hukum ngebersihin kedai gara-gara kemaren kedai tutup sebelum waktunya. Saking bersihnya ampe barang-barang dalam kedai pun pada hilang. Bersih sempurna! Nggak hanya itu aja, bos Olga juga ngomel-ngomel sendiri nggak jelas. Gara-garanya masalah omset kedai yang perlahan-lahan tapi pasti mengalami penurunan. Stressss!!!

Lain halnya bos Olga, Aan pun hari ini lagi terus-terusan ngomel nggak jelas. Marah-marah ama pengunjung. Malahan teman-temannya ngira Aan dan bos Olga lagi paduan suara. Kalo Aan pake suara perut, sedang bos Olga pake suara kambing. Kalo teman-temannya jadi back vocal-nya aja deh pake suara hati. Sebenarnya ngomel-ngomelnya Aan sih hanya masalah sepele. Gara-garanya belom sempat kenalan ama tuh cowok keriting, eh salah maksudnya Aan sebel banget kalo inget betapa belagunya tuh cowok keriting!
Kali ini teman-temannya punya misi khusus untuk mengungsikan Aan untuk sementara waktu. Dengan melalui perdebatan yang cukup sengit dan ketat mereka nentuin tempat yang cocok buat ngungsiin Aan. Ada yang ngusulin ke kutub utara biar ketemu penguin, ada yang ngusulin ke gunung Bromo, ada yang ngusulin ke Grand Canyon, ada yang ngusulin ke hutan Afrika, sampe ada juga yang ngusulin buat luluran di Lumpur Lapindo. Akhirnya mereka pake cara undian kayak ibu-ibu arisan gitu, dan pilihan jatuh ke Bandungan. Yieeeeee…….
“Lin, kalo nyetir pelan-pelan, donk!!” pinta Phoo takut banget, karna Lilin nyetirnya ugal-ugalan. Maklum, SIM aja nembak sehari langsung jadi.
“Mau pelan gimana lagi? Ini juga udah pelan benget,” sahut Lilin dengan gaya sok pembalap.
“ARGH! Lin, hati-hati di depan!” teriak Nite, mengamankan kacamata bulan separo kesayangannya.
Ciittt!!
Mobil mendadak berhenti. Kurang lima centi lagi hampir aja nabrak nenek-nenek bongkok yang mo nyebrang jalan.
“Duh, kasian nenek-nenek itu,” iba Aan, yang ngelihat nenek itu jalan kayak keong. Luambat buanget.
“Ayo, kita bantuin!” semangat dari Akanishi.
Phoo, Nite, Aan, dan Akanishi turun tangan ngasih bantuan dan pertolongan buat mindahin nenek itu nyebrang. Mobil kembali tancap gas. Ngebut! Mobil berhenti mendadak lagi karna lampu merah. Kurang satu senti lagi dari markah jalan. Untung malam jadi nggak ada razia polisi *tenang*. Mobil jalan lagi, dan ngebut lagi!
BRENG!!
Mobil berhenti mendadak. Kepala Akanishi terbentur dashbour. Kacamata bulan separo Nite pindah ke mulut. Es cream yang mau masuk ke mulut Phoo nyasar ke hidung. Aan terjatuh dari tempat duduknya.
“Apa itu?” tanya Lilin mendadak berubah jadi pucat pasi.
“Mungkin kucing?” sahut Nite.
“Kayaknya bukan, deh,” sahut Akanishi mulai parno.
“Sepertinya tadi aku sempat ngelihat sesuatu melintas,” kata Aan.
“Orang?” tanya Phoo yang mulai ketularan parnonya Akanishi.
“Kayaknya, sih…” Aan nggak yakin.
“Kalo bukan orang gimana, donk?” Lilin udah mulai takut.
“Lha, tadi yang melintas pake baju putih nggak?” tanya Nite yang juga mulai takut.
Takut-takut mereka semua turun dari dalam mobil. Seorang cowok terkapar lemas di depan mobil persis.
Glek!
“ARGGGHH!! Aku udah menabraknya! Gimana nih?” panik Lilin hampir nangis.
“Telpon ambulans!” Phoo ikutan panik, tangannya mencet-mencet nomor telpon ambulans.
“Jangan! Ntar kita dituduh yang udah nabrak nih cowok,” sahut Akanishi cepat.
“Lho, bukannya udah jelas nih cowok ditabrak ama mobilnya Lilin,” Nite menambahi.
“Huwaaaaaaaaaa… Aku nggak mau masuk penjara!!” Lilin nangis.
Yang lain bengong ngelihat Lilin nangis. Karna ini baru pertama kalinya mereka semua ngelihat Lilin nangis *ngebayangin Lilin nangis*. Mereka begitu terharunya ngelihat Lilin yang ternyata juga bisa meneteskan airmata. Phoo aja langsung mengabadikan momen berharga ini dalam kamera HP-nya. Akanishi pun nggak kalah ketinggalan dalam momen ini, foto bareng.

Kedai jam 20.45…
Mereka bingung mo bawa nih cowok hasil tabrakan kemana? Ke rumah sakit? Nggak ada duit buat administrasi. Ke kantor polisi? Lilin takut kalo dijadikan tersangka utama. Akhirnya mereka bawa pulang ke kedai. Beruntunglah dalam kasus ini Kamenashi dan Oguri nggak ikut dalam rombongan mereka. Kamenashi dan Oguri dapat misi rahasia dari bos Olga. Nggak tau tuh misi rahasia apa? Tapi, yang jelas sih buat kemajuan kedai ini. Untung juga nih kedai tutup lebih awal.
Berhubung nih cowok berat, jadi mereka berame-rame menggotongnya. Phoo narik kaki kanannya, sedang Aan narik kaki kirinya. Nggak peduli tuh cowok kepalanya mo kepentok pintu ato kaki meja. Yang penting tarik! Nite sibuk celingak-celinguk kayak maling. Akanishi nyiapin seember air buat ngebangunin nih cowok. Nah, kalo Lilin duduk di pojokan sambil sesenggukan nangis.
“Heh!” Nite nendang-nendang tuh cowok yang sekarang udah ada di atas lantai depan mini bar.
“Kita siram aja!” kata Akanishi yang siap-siap mo nyiram tuh cowok.
“Jangan!”
“Kenapa?”
“Ntar kalo lantainya basah, yang repot kita juga,” sahut Nite.
“Eh, nih cowok, kan yang numpahin es dawet ke sepatuku,” kata Aan yang masih inget banget ama rambut keritingnya. Tapi, ngelihat tuh cowok terkapar lemas, Aan yang punya jiwa kemanusiaan jadi kasihan dan iba.
“Eh, iya… rambut keritingnya masih sama. Lucu. Hahaha…,” tawa Nite sambil noel-noel rambut keriting tuh cowok.
“Kita telpon Kame. Siapa tau Kame bisa bantu kita,” usul Phoo, ngeluarin HP-nya.
“Jangan! Pasti ntar Kame bakal nyuruh kita bawa nih cowok ke rumah sakit,” sahut Aan cepat.
“Huwaaaaaa…. Aku nggak mau masuk penjara!!!” jerit menyayat hati dari Lilin.
Mereka baru sadar kalo masih ada satu orang lagi disitu, yaitu Lilin! Ngelihat Lilin di pojokan di bawah cahaya lampu remang-remang, udah hampir mirip kayak Sadako.
“Ternyata namanya Jun Matsumoto. Ada alamatnya. Eh, ada telponnya lagi,” ujar Phoo yang nemuin kartu nama tuh cowok di dompet.
“Wou, duitnya banyak buk!” girang Akanishi dengan mata berbinar-binar.
“AAARRRRGGG!!!” teriak Aan kenceng banget karna tiba-tiba ada yang mencengkeram kakinya. “Dasar cowok genit! Cowok mesum!! Cowok hidung belang!!!” maki-maki Aan sambil berontak minta lepasin.
“Eh, dia hidup!” pekik Phoo.
Tuh cowok keriting beranjak bangun. Duduk sambil megangin kepalanya yang sakit akibat kepentok.
“Bukankah aku emang masih hidup?”
“Iya! Kamu emang masih hidup!!” Nite, Phoo, Aan, dan Akanishi ngejawab kompak serentak.
“Ini dimana? Kalian siapa?
“Kita karyawan kedai,” sahut Akanishi.
“Lalu siapa aku?”
“Nggak tau,” sahut Phoo geleng-geleng kepala.
“Kamu nggak tau siapa kamu?” tanya Nite.
Tuh cowok keriting cuma bisa geleng-geleng kepala.
“Apa kalian mengenalku?”
“Tidak!” sahut Phoo dan Akanishi kompak.
“Ya!” sahut Nite dan Aan kompak.
“Sebenarnya kalian kenal aku apa nggak?”
“Iya, kita mengenalmu. Kamu juga karyawan kedai ini. Teman kerja kita juga,” sahut Aan. Tangannya menarik kartu nama di tangan Phoo, dan dompet di tangan Akanishi.
“Lalu, siapa namaku?”
“Jun Pyo,” sahut Nite cepat.
Aan, Phoo, dan Akanishi spontan narik tangan Nite dan bertanya kenapa namanya ‘Jun Pyo’?
“Namanya, kan Jun Matsumoto. Nah, kita panggil aja dia Jun,” Nite senyam-senyum genit.
“Trus ‘Pyo’-nya apaan?” tanya Phoo bingung.
“Rambut keritingnya ngingetin aku ama anjing poodle kesayanganku si Pyo-pyo,” jawab Nite cuek.
“Apa ada hubungannya dengan namaku?” tanya tuh cowok keriting tiba-tiba nongol di belakang mereka.
ARGH!!
“Ingat namamu adalah Jun Pyo. Jun Pyo adalah namamu. Ingat itu!” ujar Nite manis.
“Jun Pyo…” ujar tuh cowok keriting ngulangin namanya.
“Lalu, dimana rumahku?”
Semuanya spontan nunjuk ke arah Akanishi.
“Ekh??!”
“Selain karyawan kedai ini, kamu juga kakak sepupu Akanishi yang sangat jaaaauuh. Nama kalian juga hampir sama Jun Pyo… Jin Akanishi…” jelas Aan sambil nepuk-nepuk pundak Akanishi.
“Kamu pasti capek, kan? Kalo gitu kamu duduk aja disana, ya!” suruh Nite ke Jun Pyo.
“Ingat! Masalah ini yang tau hanya kita berlima,” kata Aan tegas banget.
“Yang satu mana?” bingung Phoo karna dia cuma ngitung ada empat ekor doank.
Ternyata Lilin masih berada di pojokan dengan airmata dan ingus meleleh. Kalo ditampung mungkin bisa dapat dua baskom.

つづく
Tolong Jangan Diklik...

Hima2.002 Curly Boy

CURLY BOY

Seminggu kedai dibuka…
Seminggu juga Hima Kurabu kerja di kedai…
Seminggu juga pengunjung kedai sepi…
Bos Olga uring-uringan. Makan nggak enak, minum nggak enak, tidur nggak enak, MC nggak enak, ngecengin brondong-brondong anak SMA teteeep jalan. Bahkan alasan utama kedai ini ada di jalan ini karena lokasinya yang merupakan tempat persekolahan dan perkantoran.

“Hari ini sepi lagi, ya…” keluh Nite, menopangkan satu tangannya di dagu. Matanya bergerak kayak mesin tik ngelihat Kamenashi ngepel lantai.
“Sepi darimana? Rame gini,” sahut Phoo sambil moto Kamenashi yang sedang ngepel dalam berbagai pose.
“Ada tujuh orang gini, sepi darimananya, ya?” Akanishi setuju dengan Phoo.
“Pengunjungnya yang sepi!” sahut Aan dari dapur. Sibuk masak sop jagung.
“Hmm, baunya harum,” Lilin ngendus-ngendus.
“Sop jagung, ya? Mau, donk!” mupeng Akanishi dan Phoo ikutan ngendus-ngendus.
“Bentar, ya.”
Dapur di kedai ini sengaja dibuat setengah terbuka dan setengah tertutup. Di depannya ada mini bar. Jadi, pengunjung bisa tau apa yang dilakuin ama karyawannya di dapur. Apalagi kalo ada ‘kucing kepala hitam’ yang sukanya ngambil puding diam-diam dalam lemari es, pasti langsung ketahuan seketika. Dan, biasanya dalam kasus ini hanya ada satu tersangkanya, yaitu Phoo yang emang terkenal doyan makan. Untungnya tuh badan nggak melar-melar *syukurlah.*
Satu jam berlalu, pengunjung belom ada yang datang…
Dua jam ditunggu, pengunjung belom juga datang…
Tiga jam terlewatkan, pengunjung masih belom datang juga…
Empat jam nunggu, pengunjung masih belom nongol-nongol juga…
“Hah, kalo gini terus sama aja aku pindah tempat membusuk,” protes Nite.
“Ini, kan kedai baru. Baru aja dibuka seminggu. Wajar aja kalo masih sepi. Ayo, kerja!” Kamenashi ngasih semangat.
“Yang mau dikerjain apa?” Aan ngabisin sop jagungnya.
“Tau gini mending aku absen aja hari ini. Donlod seharian di warnet.”
“Mungkin promosi kedai ini kurang kali?” Oguri buka suara.
“Gimana kalo kita bakar aja biar rame?” seru Phoo siap-siap ngambil minyak tanah.
“Sekalian pake kembang api,” Akanishi ngambil kembang api.
“Aku ambil korek apinya, ya…” kata Nite ngambil korek api di dapur.
“Gimana kalo kita undang sensei-sensei kita kesini?” usul Aan.
“Ajak pak Acep juga, ya?”
“Sekalian ajak teman-teman kelas kita, 3D.”
“Jangan undang profesor Snape!”
“Dokter Nicho undang juga, ya?”
“Oia, Siti dan Pipit yang udah nikah juga diundang.”
“Ntar yang perform nyanyi aku ama Kame, ya?”
“OK!”
“Bete, ah! Kalo seharian harus duduk disini. Jalan-jalan, yuk?” usul Aan yang udah ngabisin sop jagungnya, malahan ludes ampe mangkok-mangkoknya.
“Ke Johar, yuk?” usul Phoo.
“Ikut!” teriak Akanishi girang.
“Ngapain ke Johar?” tolak Nite yang emang nggak pernah sependapat ama Phoo.
Kamenashi dan Oguri hanya geleng-geleng kepala. Ternyata teman-temannya masih belom berubah. Masih sama seperti yang dulu. Tetap gokil dan aneh!

Mereka berame-rame ke pasar dan menutup kedai sementara. Tiba di pasar, mereka dibagi jadi dua tim. Tim cewek dan tim cowok. Tim cowok ke toko kain. Masih ingat, kan kalo orang tua Kamenashi dan Akanishi punya toko kain? Kalo lupa, Hima Kurabu seasons I dibaca lagi, ya... Nah, kalo yang cewek shoping ke daerah sepatu dan tas. Lilin sebenarnya pengen ngikut tim cowok. Ribet kalo kudu ngedengerin Aan dan Nite nawar harga paling murah. Kalo belom dilepas juga terpaksa deh menggunakan jurus cute dari Phoo *hueeeeeeeekkkkss!!*
BRES!!
Sepatu Aan ketumpahan es dawet.
“Iyek, jijik! Heh, kalo jalan bisa lihat nggak?” bentak Aan yang punya jiwa preman marah-marah.
“Maaf. Aku tadi nggak sengaja.”
“Kalo minta maaf berguna, penjara nggak akan penuh!”
“Aku akan menggantinya dengan yang baru.”
“Apa uangmu lebih banyak dari aku, hah?”
Aan berkerut aneh saat ngelihat orang yang telah menumpahkan es dawet di atas sepatunya yang terbuat dari kulit kadal. Seorang cowok bisa dibilang cakep, bertubuh tinggi, berhidung mancung kayak pinokio, dan ya ampun, tuh rambutnya keriting punya!
“Lin, orange jusmu masih ada?” tanya Aan masih emosi.
“Masih. Kenapa? Mau?”
“Sini!”
Aan mengulurkan tangannya menagih orange jusnya cepat dikasihkan ke dia. Dalam hitungan detik, orange jus udah ditumpahkan cepat ke baju tuh cowok.
“Ayo, pergi!”
Nite ngikutin di belakang Aan dengan plastik belanjaan penuh di tangan. Phoo ngebacain doa buat ngademin hati Aan yang tersulut emosi. Sedang, Lilin meratapi orange jusnya yang baru diminumnya seperempat.
“Heh!” panggil tuh cowok keriting.
“Ada apa?!”
Pluk!
Tuh cowok keriting nempelin stiker ke jidat Aan.
“Aku anak dari tukang sol sepatu. Kalo sepatumu rusak ato perlu dijahit datang aja ke toko kami. Disitu juga udah ada alamatnya!” trus tuh cowok pergi tanpa pamit.
“Dasar cowok keriting!!”

Di toko kain milik orang tua Kamenashi…
Aan duduk di depan anak tangga pintu masuk toko. Pengunjung mau masuk, tapi nggak jadi setelah ngelihat wajah nyeremin Aan. Kedua matanya melotot. Hidungnya kembang-kempis. Dari ubun-ubun kepalanya keluar asap.
“Teh! Kalo teteh duduk dengan wajah seperti itu di depan tokoku, bisa-bisa semua pengunjung pada kabur,” ujar Kamenashi yang ngelihat toko Akanishi jadi lebih laris manis.
“Tuh cowok keriting emang nyebelin banget!!”
Aan menghantamkan buku-buku tangannya ke dinding. Busyet! Saking kuatnya emosi, tuh dinding ampe retak-retak kayak habis gempa.
Teman-temannya untuk sementara waktu menjauh dari Aan. Di pojokan anak tangga duduk manis Akanishi, Lilin, Oguri, Phoo, dan Nite sambil menyantap pecel lele yang beralaskan daun pisang.
“Emang tadi ketemu siapa?” tanya Oguri, duduk di samping Phoo.
“Ketemu cowok. Cakep sih. Tapi, nggak lebih cakep dari Kame,” sahut Phoo, duduk di sebelah Nite. Bagi Phoo sih Kamenashi udah yang paling the best gitu.
“Lihat nggak tadi rambut keritingnya? Hahaha…” tawa Nite sambil main-mainin kepala lele.
“Padahal orange jusnya baru kuminum seperempat,” sedih Lilin, duduk di belakang Nite.
“Kalo tuh cowok cakep, harusnya, kan teteh senang?” bingung Akanishi, duduk di sebelah Lilin.
“Huh—”

Sementara itu di kedai…
“Lho, kok kedai jam segini udah tutup? Pada kemana karyawanku?” bos Olga menempelkan kepalanya ke jendela ngintip dan celingukan nyari karyawannya.

つづく

Tolong Jangan Diklik...

Hima2.001 Awal yang Cerah

Prolog

Hore!! Nggak nyangka nih Hima Kurabu udah masuk seasons II… *tepuk tangan bangga.* Para pemainnya masih tetap. Masih ama tujuh anak gokil yang nggak ada kerjaan. Belom nambah-nambah. Pengennya sih tetep segitu aja. Ntar kalo kebanyakan alias nambah, wah bakal repot. Belom lupa, kan ma para pemainnya? Kalo lupa sedikit mo ngingetin lagi nih…

1. Kamenashi, si cowok imut keturunan Jepang-Sunda. Logat ngapaknya ampe sekarang belom hilang-hilang. Masih tetap ngegemesin.
2. Oguri, si cowok manis yang super jutek dan cool berat. Hanya ada satu kata andalan dalam kamusnya, yaitu BAKA.
3. Phoo, si cewek manis yang ngaku-ngaku sok imut ini cinta banget ama Kamenashi. Narsis banget, dan lemotnya sumpah minta ampun!
4. Nite, si cewek berkacamata bulan separo. Saingan cinta terberat Phoo. Kadang sikapnya jutek, kadang sikapnya nggak kalah sok imut dari Phoo.
5. Lilin, Di KTP tertulis perempuan, tapi sifatnya jauh dari feminim. Kalo mau lihat Lilin feminim gampang kok, buat aja dia amnesia! Pasti deh bakal jadi feminim. Lebih feminim dari putri Solo. Punya hobi ngedonlod apapun… (^_^)v…
6. Aan, si cewek berjilbab dengan punya banyak jiwa, yaitu jiwa preman, jiwa keibuan, jiwa dagang, dll. Biasanya lebih akrab dipanggil ‘teteh’ karna umurnya yang lebih tua dari teman-temannya. Paling care, perhatian, dan peka perasaannya dari yang lain.
7. Akanishi, si cowok cakep yang punya senyum polos kayak anak kecil. Senyumnya bikin klepek-klepek hati, dan matanya sangat indah. Teman kecil Kamenashi. Penakutnya minta ampun!

Dah kenalan, kan ma pemainnya? Di seasons II ini Hima Kurabu udah lulus dari sekolah tercinta mereka Undian High School. Mau tau nggak apa aja kerjaan mereka setelah lulus?
- Kamenashi dan Akanishi giat latihan vokal ama Mbah Kurip. Trus latihan dance ama Rain. Latihan dance-nya di tengah hujan lagi. Kadang mereka berdua diundang buat acara kawinan dan ulang tahun tante-tante genit gitu. Ada dua teman sekolah mereka yaitu Pipit dan Siti yang nikah, Kamenashi dan Akanishi jadi wedding singer-nya.
- Oguri tiap hari sibuk latihan lompat tinggi.
- Phoo sibuk di rumah jadi Cinderella. Katanya sedang nungguin pangeran hatinya datang ngebawain sepatu kaca.
- Nite seharian ‘membusuk’ di rumah nemenin keponakannya nonton anime.
- Lilin ‘membusuk’ di warnet buat ngedonlod, trus berlanjut ‘membusuk’ di rumah di depan komputer buat nonton hasil donlodan.
- Aan sibuk jaga warung, ke pasar, dan jualan kosmetik. Pokoknya hidup dagang!!

Meskipun udah pada lulus tapi komunikasi masih tetap jalan. Minimal SMS sehari 3 kali *kok kayak minum obat aja*. Daripada waktu luang terlalu luaaaaang bangeet, akhirnya mereka memutuskan untuk kerja di sebuah kafe yang bernama Kedai Poedinkoe. Kebetulan nih kedai baru buka. Jadi masih perlu karyawan.


AWAL YANG CERAH

Awal musim rambutan…
Nggak jelas bulannya kapan? Maklum aja di negerinya para Hima Kurabu musimnya paling banyak. Ada musim duren, musim jengkol, musim kawin, musim sunatan, ampe musim cerai pun juga ada.
Suatu hari di bulan yang penuh ceria. Tepatnya enam bulan sejak lulus dari Undian High School. Sebuah kafe -dengan menyajikan menu utama puding- yang bernama kedai Poedinkoe baru buka di kota lumpia. Otomatis donk perlu banyak karyawan baru. Nih kedai berlokasi di jalan Muda-mudi, masih satu lokasi ama Kredit Mall. Di depannya kedai berjejer sekolah SMA bertaraf internasional, SMA favorit, trus ada juga SMK dan SD. Hmm, lokasi strategis dan menguntungkan.
Walopun cuma nyari karyawan doank, si pemilik kedai yang nggak lain dan nggak bukan si presenter super sexi dan populer, Olga Syahputangan rela nyisihin wktunya yang padat buat mengaudisi karyawan barunya. Untung aja bos Olga dibantu ama dua rekannya yaitu Rapi Amat dan Lunanya Maia. Audisi ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Belom lagi penuh dengan perang mulut+adu kungfu. Akhirnya terpilihlah karyawan yang telah memenuhi kriteria para juri.

Hari pertama kerja…
Bos Olga udah berdiri di depan pintu masuk kedai sambil ngebawa tatakan kertas *aduh, apa sih namanya?* *nyari-nyari di kamus* ditangan kiri dan bolpen ditangan kanan.
“Karyawan baruku pada kemana, sih? Ini, kan hari pertama kerja,” bos Olga ngelirik jam di tangan kirinya yang berbentuk kepala satria baja hitam. Jam 07.00.
Satu karyawan berwajah imut datang dengan sepeda kesayangannya. Rambutnya diwarnai kecoklatan gitu.
“Pagi, bos,” sapa Kamenashi hangat, masih dengan logat ngapaknya.
“Pagi.”

Lima menit kemudian, datang cowok manis dengan berlari-lari kecil. Katanya buat memperkuat injakan kakinya waktu melompat.
“Pagi, bos,” sapa Oguri cool banget. Gayanya masih tetap sama. Dingin-dingin gimanaaa.
“Pagi.”

10 menit kemudian, datang Lilin dengan gayanya yang cuek. Melengos begitu aja tanpa menyapa bos Olga. Senyum pun kagak tuh!
“Heh, heh!! Ketemu bos harusnya nyapa! Bukan diam gitu!! Ayo sapa dulu!!!” teriak-teriak bos Olga sambil ngacungin bolpen.
Lilin masih asyik dan cuek aja masuk ke dalam kedai. Abisnya tuh kuping, kan disumbat pake head-set jadi nggak bakal denger. Orang teriak kebakaran pun juga kagak denger.
“Lho? Oguri, Lilin?” kaget Kamenashi saat ketemu Oguri dan Lilin di depan mini bar.
“Kame!” kompak Oguri dan Lilin.
“Kerja disini juga?”
Kamenashi mengangguk pelan. “Kalian juga?”
“Un.”
Ni kedai emang keren banget penataannya. Kedai ini ada dua lantai. Lantai bawah tempat yang asyik buat nongkrong-nongkrong ama teman-teman gitu. Di teras belakang ada taman kecil dan air mancur buat santai-santai kalo pengen ngelihat tanaman ijo-ijoan. Lantai atas tempat duduknya sofa dan dilengkapi dengan fasilitas hot spot. Kalo mo lihat keramaian jalan, duduk aja di teras atas.
“Kame!!” teriak Nite dari jauh saat ngelihat orang yang disukainya ternyata juga kerja di kedai ini.
“Nite, kamu ngapain disini?”
“Ya, buat kerja donk Kame. Sepertinya kita berdua emang benar-benar berjodoh,” ujar Nite genit+tebar pesonanya di hadapan Kamenashi belom hilang-hilang juga.
“Argh! Ternyata kalian kerja disini juga?” teriak Aan girang banget.
“Kok perasaanku tiba-tiba nggak enak, ya?” ujar Kamenashi yang mendadak punya feeling buruk.
“Jangan-jangan kamu belom makan? Aku temenin makan, ya?”
“Nggak usah, terima kasih. Aku udah makan.”

Di depan pintu kedai, bos Olga masih nunggu dua karyawannya yang belom nongol-nongol juga. Mondar-mandir kayak setrikaan arang jaman dulu.
“Iiih, mana sih tuh dua makhluk?”
Dari kejauhan, sebuah sepeda melaju santaaaai banget masuk ke dalam halaman kedai. Akanishi! Eh, di belakangnya duduk manis Phoo.
“Hei, kalian niat kerja nggak, sih? Ini udah jam berapa?”
“Jam delapan,” sahut Phoo.
“Aku nyuruh kalian kumpul jam delapan, bukan berarti nyampe sini jam delapan!!” bos Olga melolot kayak yang ada di film-film horor.
“Tadi habis isi bensin dulu, bos,” Akanishi ngasih alasan.
“Isi bensin? Hallow…!!” kata bos Olga dengan gaya sok gaul punya.
“Hallow juga,” sahut Phoo polos.
“Berani ngeledek bos, ya?”
“Siapa yang ngeledek bos? Tadi, kan bos bilang ‘hallow’, nah aku jawab juga dengan ‘hallow’.”
“Hallow… plisss, deh!!”
Akanishi dan Phoo masuk ke kedai dan tiba-tiba aja kedai rame dengan teriakan heboh dan histeris dari mereka semua.
“ARGH!” teriak Akanishi dan Phoo.
Phoo berlari ala slow motion meluk Aan. Begitu juga dengan Akanishi berlari slow motion meluk Kamenashi.
“Teteh, kok ada disini? Aduh, aku kangen banget.”
“Aku juga,” ngebalas pelukan Phoo. “Eh, rambutmu potong, ya? Jadi kelihatan segar,” puji Aan yang ngelihat rambut Phoo dipotong pendek kayak rambutnya Sherina.
“Ya, ampun Kame! Sepertinya kita berdua berjodoh, deh,” senyum Phoo genit ke arah Kamenashi.
“Hah, kenapa sih kita slalu ketemu? Padahal, kan aku pengen bisa berduaan aja ama Kame,” keluh Nite nggak senang ngelihat Phoo ikutan kerja di kedai.
“Kok kalian bisa bareng?” tanya Lilin.
“Oh, tadi di warung bubur aku nggak sengaja ketemu ama Phoo. Trus Phoo bilang dia kerja di kedai ini, dan kebetulan juga aku kerja di kedai ini. Jadinya kita bareng, deh.”
“Oh, syukurlah…” lega Lilin.
“Maksudnya ‘syukurlah’ apaan?” tanya Nite, ngelihat aneh ke arah Phoo dan Aan yang masih berpelukan.
“Syukurlah kalian nggak datang terlambat,” jawab Lilin.
“Apa kalian semua akan kerja disini?” Kamenashi bertanya sekali lagi biar lebih yakin.
“Yup!” kompak semuanya.
Huh—, keluh Kamenashi yang ngerasa hari-harinya kerja di kedai bakal jadi sebuah mimpi buruk. Malahan ini awal dari mimpi buruknya.

つづく
Tolong Jangan Diklik...

Agustus 05, 2009

Hima.030 Hari Bersejarah

Asrama timur cewek pada waktu dini hari buta…
Phoo, Nite, Lilin, Aan, Nia, Ratna, Siti, dan Dini masih mentolo kayak bandeng. Nggak bisa tidur! Mereka duduk menghadapi laptop milik Ratna. Trus maen webcam ama Kamenashi, Akanishi, dan Oguri.
“Nggak nyangka, ya besok kita udah di wisuda…” ujar Ratna.
“Benar2 nggak nyangka, ya… padahal baru kemaren aku masuk 3D.” sahut Akanishi dari layar laptop.
“Iya, Aka masuknya telat, sih… kenapa nggak dari kelas satu? Jadi, kan kita bisa sama2 trus…” sedih Lilin yang nggak nyadar udah ngomong gitu.

Spontan yang lain pada noleh ke arah Lilin dengan tatapan aneh dan ‘benar nggak sih ini yang ngomong Lilin?’
“Kan, kalo Aka masuknya dari awal. Pasti jauh lebih seru. Hehehe…” ngeles Lilin sambil ngemut lollipop.
Tatapan mata yang lain seolah2 nggak percaya dan trus melototin Lilin dengan sorot mata mematikan.
“Apa rencana kalian setelah lulus nanti?” Kamenashi jadi wasit.
“Aku sih pengennya slalu bareng2 ama Kame.” Sahut Nite cepat.
“Ya, udah jadi pembokatnya Kame aja.” Sahut Akanishi enteng.
“Masa aku yang cantik ini harus jadi pembokat sih? wah, nggak lepel, tuh…” ogah Nite.
“Aku tau… pasti Oguri mau jadi atlit lompat tinggi, kan?” yakin Nia sambil menyibakkan rambutnya yang penuh kutu.
“Un.” Sahut Oguri singkat banget. “Lho, Phoo kok sedih?”
“Ho-oh, Phoo… kok sedih? Biasanya kalo lihat Kame pasti senangnya bukan main…” sindir Aan.
“Aku senang kita semua lulus… tapi, aku sedih karna kita semua bakal pisah…” Phoo hampir netesin airmatanya. *tumben, nih anak hari ini omongannya dikit beres.*
“Kita masih bisa saling komunikasi kok.” Ratna nenangin.
Siti ngambilin air putih buat nenangin perasaan Phoo. Dini ngasihin permen ke tangan Phoo.
“Sekarang jaman udah canggih. Internet, email, friendster, trus yang terbaru facebook. Jadi, kita masih bisa contect2an…” Aan ngelus2 punggung Phoo.
“Tapi masalahnya… aku nggak ngerti priendster atopun pacebook. Aku cuma ngerti surat2an…” polos Phoo.
“Baka!!” ledek Oguri dengan gayanya yang khas.
Phoo masih sedih. Ratna, Nia, dan Aan menghibur Phoo.
“Phoo… kalo kamu nggak bisa make friendster atopun facebook, kamu bisa pake surat kok…” saran Kamenashi buaiknya minta ampun.
“Souka? Hountoni arigatou…” Phoo nangis haru bombai.
“Heh, bukannya kamu juga nggak bisa friendster ato facebook. Bukannya kemaren minta ajarin aku. Gitu kok ngatain Phoo ‘baka’…” bela Akanishi sambil noel2 baju Oguri.
“Siapa bilang aku nggak bisa?” balas Oguri nggak terima nama baiknya rusak oleh Akanishi.
“Udah, udah…” lerai Kamenashi bijak. “Udah malam… ayo tidur! Besok, kan hari bersejarah buat kita semua.”
“Kame, met malam… oyasuminasai…” Phoo melambai2kan tangan centil.
“Kame, mimpi indah, ya…” genit Nite sambil ngedipin mata ke Kamenashi.
Kamenashi cuma ngasih senyum termanisnya.
“Aka, met malam…” ujar Lilin, ngebuat yang laen pada kembali noleh ke arahnya. Ngelihat situasi yang nggak menguntungkan Lilin cepat2 ngeles lagi, “Kame, met malam… dan Oguri, met malam juga…”
Meskipun gitu tapi tetep aja teman2nya masih menatap Lilin dengan tatapan mengerikan lebih ngeri dari profesor Snape. Mereka semua bingung ama perubahan sikap Lilin yang begitu baiknya ama Akanishi.
***
Rabu pagi tepatnya di tanggal 29 April… tepatnya lagi di sebuah ballroom hotel bintang lima…
Hari yang paling bersejarah bagi anak2 kelas 3D. Nggak hanya bagi anak2 kelas 3D aja, tapi kelas 3 penghuni Undian High School menanti2 hari ini. Karna anak2 kelas 3D cuma 11 ekor doank, jadi mereka hanya dapat jatah bangku satu baris aja. Belom lagi tempat duduk mereka ada di barisan ketiga dari belakang dekat dengan pintu masuk. Anak2 kelas 3D udah duduk dibangku masing2 sesuai dengan nomor urutnya.
“Duh, jadi deg2an, ya? Padahal cuma mau salaman ama pak Asep doank.” Tangan Phoo panas dingin.
“Ho-oh… kayak mau ijab kabul gitu, ya?” sahut Nite.
“Jantungku kayak mau copot.” Nia megangin dadanya.
“Padahal cuma mindahin kucir aja kudu nunggu 3 tahun, sih?” sahut Aan, tangannya sibuk mindahin kucir di toganya sendiri.
“Padahal mindahin kucir sendiri juga bisa.” Sahut Akanishi, yang ngelakuin hal yang sama ama Aan, mindahin kucir di toganya sendiri.
“Makanya ini disebut hari bersejarah bagi anak sekolah. Perjuangan selama 3 tahun menimba ilmu.”
“Kalo mau menimba mending di sumur aja…” ujar Phoo yang lemotnya udah balik lagi.
“Ntar abis salaman ama pak Asep nggak akan kucuci selama seminggu, ah…” rencana Nia.
“Ntar waktu aku salaman ama pak Asep dipotoin, ya!” pinta Phoo.
“Lin, kamera digitalmu mana?” tanya Aan.
“Kenapa?”
“Ayo kita foto2 dulu disini… mumpung acaranya belom dimulai.” Pinta Aan minta persetujuan dari yang lain.
“Nggak modal banget, sih!” Lilin mulai jeprat-jepret jadi tukang foto dadakan.

Prosesi wisuda kelulusan berlangsung hampir 3jam…
Di luar ballroom hotel.. di taman dekat air mancur…
Nggak ada keletihan&kelelahan di wajah anak2 kelas 3D. Mereka begitu senang dan tertawa girang banget. foto2 narsis banget. Apalagi Phoo yang terkenal paling narsis dalam urusan foto. Eh, ternyata Akanishi juga nggak kalah narsis dari Phoo. Keduanya paling banyak gaya dan anti mati gaya.
“Selamat anak2ku…” pak Asep ngasih ucapan selamat ke anak2 3D yang lagi asyik narsis foto.
Di sebelah pak Asep berdiri para sensei dari kelas bahasa Jepang. Ada Ryan sensei, Iwan sensei, Madam Ivan wali kelas 3D, dan profesor Snape *kok, sensei2nya dikit banget, ya?*
“Terima kasih pak Asep…” kompak anak2 kelas 3D sambil ngebungkukkin badan.
“Pak Asep… kita boleh foto2 sama pak Asep?” harap Phoo yang ngefans berat ama pak Asep.
“Boleh…” ujar pak Asep sambil ngebenerin dasi kupu2nya.
Ryan sensei yang punya hobi fotografer langsung mengabadikan moment penting ini. Trus, semua sensei2 berfoto bersama. Semuanya pada ogah berdiri di samping profesor Snape. Sampe akhirnya, Oguri yang beruntung berdiri di samping profesor Snape.
Terakhir…
Anak2 kelas 3D foto bareng dengan latar belakang air mancur. Mereka berame2 ngelempar toga ke atas dan… oopst!! Semua toga mereka pada nyangkut di atas genting dan pohon.

-selesai-
Tolong Jangan Diklik...

Hima.029 Pertarungan Hidup&Mati

Hidup anak2 kelas 3D bakal diujung tanduk. Hari-hari di kehidupan Undian High School tinggal menghitung hari. Profesor Snape bersorak girang banget sambil nari2 hula hup di ruangannya. Namun, ini sama skali nggak ada hubungannya ama profesor Snape! Hidup mereka tinggal menghitung hari karna minggu depan anak2 kelas 3D udah ujian akhir semester alias ujian kelulusan sekolah.
Anak2 kelas 3D sibuk nyiapin diri, fisik, mental, jiwa, raga, doa, dan duit kalo2 ada soal ujian yang bakal dijual. Tiap hari belajar dari pagi ampe ketemu pagi lagi. Malah Akanishi bela2in bangun lebih pagi dari ayam jantan.

Aktifitas di asrama timur nggak seperti biasanya yang rame dan ada2 aja ulah gokil anak2 kelas 3D. Hari ini sepi, senyap berasa di kuburan.
“Hah, aku nyerah deh!” Nite angkat tangan.
“Aku juga…” Phoo ngasih bendera putih.
“Pas…” Aan nutup bukunya. Trus tidur di atas buku sebagai bantalannya.
“Payah, segitu aja udah nyerah…” olok Lilin yang masih betah berkutat ama buku sejarah kanji setebal 999 halaman.
“Jangan nyerah gitu, dunk… ayo, kita belajar baremg2 lagi…” saran Siti lembut banget.
“400 x 25 berapa, ya?” Dini ngitung neraca keuangan pake sempoa.
Kamenashi sibuk baca daily propet. Oguri sibuk baca novel. Akanishi baca terjemahan novel Kicchin yang diterjemahin ama Hima Kurabu setahun yang lalu. Padahal kata Ryan sensei tuh novel romantis. Tapi, setelah diterjemahin ama Hima Kurabu jadi aneh&bikin ngakak nggak jelas. Ryan sensei aja ampe gedek2 kepala nggak jelas&beberapa kali ngelus2 dada *maklum donk… namanya juga novel pertama diterjemahin. Bahasanya juga masih kacau-balau. Tiap kali ingat novel kicchin pasti pengennya ketawa kalo ingat gimana gokilnya dan perjuangan saat nerjemahinnya.*

Nia dan Ratna datang ke perpus dengan wajah penuh senyum. Ni perpus udah seminggu dijadiin markas besar anak2 kelas 3D buat belajar bareng.
“Ayo, tebak… aku punya berita apa?” Nia ngajak maen tebak2an lagi.
“Ada hadiahnya nggak?” sahut Akanishi.
“Kalo hadiahnya sekotak kutu… nggak mau, ah…” ogah Phoo.
“Apalagi kalo dijadiin sate kutu…” ogah Nite juga.
“Apa ada hubungannya ama profesor Snape?” tanya Aan penasaran.
“Apa jangan2 kita disuruh maen drama buat pesta kelulusan?” Oguri ogah banget.
“45 ditambah 1250 berapa, ya?” Dini masih ngitung neraca keuangannya pake sempoa.
“Oh, no no no no…” Nia ngegoyang2in telunjuk tangannya niruin gaya centilnya Miss Anna.
“Pasti ada hubungannya dengan ujian kita.” Sahut cuek Kamenashi, masih baca daily propet.
“Lho, kok tau?” kaget Nia dan Ratna kompak.
“Ya… feeling…” sahut Kamenashi.
“Tadi aku ketemu Inui. Dia bilang dia punya soal ujian untuk kelas Jepang. Tapi, sayangnya nggak ada jawabannya. Kalo kita mau, kita bisa patungan buat beli soal ujiannya. Trus, jawabannya dikerjakan bareng2. Kepala banyak, kan lebih bagus daripada kepala satu.” Nia ngasih perumpamaan cemerlang.
“Aku mau!!!!” Akanishi, Phoo, Nite, Lilin, dan Aan serentak angkat tangan setuju.
Nia dan Ratna menatap Kamenashi, Oguri, Siti, dan Dini dengan tatapan anak kucing dibuat semanis mungkin.
“Kenapa sih nggak usaha dulu?!” tukas Oguri. “Tapi kalo usaha buat lulus kenapa nggak?” senyum Oguri yang berarti setuju.
“Aku sih… kalo kalian setuju, ya aku juga setuju…” sahut Kamenashi pasrah.
“Lebih baik kalian belajar biar lulusnya murni hasil kerja keras sendiri.” Saran Siti.
Akanishi, Phoo, Nite, Lilin, Aan, Nia, dan Ratna langsung menyorotkan tatapan pembunuh dingin.
“O-oke… aku se-se-setuju…” pasrah Siti nggak berdaya.
“Yach, ngeluarin duit lagi dunk…” ujar Dini ngitung pengeluaran pake sempoa.
***
Satu minggu kemudian…
Di kelas 3D tempat berlangsungnya ujian kelulusan sekolah…
Tegang dan takut. Namun, keadaan makin tegang saat yang jaga adalah profesor Snape. Di atas meja masing2 anak dipasangi kamera agar nggak ada yang bisa contek2an. Meskipun cuma berlangsung 90 menit, berasa 90 jam… apalagi profesor Snape trus2an ngelihatin Oguri. Kayaknya profesor Snape masih dendam waktu di kelas chanoyu kemaren.

“Laper—” keluh Akanishi, duduk di bawah.
“Nih…” Lilin ngasihin coklat ke tangan Akanishi.
“Coklat! Makasih, ya Lin…” senang Akanishi.
“Buat aku mana?” minta Phoo, Nite, dan Aan ngulurin tangan.
“Aduh, aku cuma bawa satu tok… hehehe…” ngeles Lilin.
“Kok kamu baik banget akhir2 ini ama Aka?” todong Nite.
“Hayooo… jangan2 kamu…” tebak Phoo.
Lilin makin tersudut. Gawat kalo ketauan! Lilin, kan lagi suka ama Akanishi. Semenjak pertama kali bertemu di konser J-RUK. Kata orang sih love at the first sight gitu.
“Jangan2 kamu… kamu punya utang ama Aka, ya?” tebak Phoo asal banget.
“Aku nggak pernah punya utang ama siapa pun.” Sahut Lilin tergagap.
“Kalo gitu… ayo bayar utangmu!” tagih Aan.
“Utang apa?”
“Bulan lalu kamu beli sabun di tempatku, tapi lom dibayar. Ayo, mana?” tagih Aan lagi.
Terpaksa deh Lilin ngeluarin duit buat bayar utang. Daripada kudu malu di depan gebetan.
“Tadi aku benar2 nggak bisa gerak seinci pun!” gerutu Oguri duduk di bawah.
“Jangan2 profesor Snape…” tebak Phoo lagi.
“Jangan2 apa lagi?” sahut Nite.
“Jangan2 profesor Snape suka ama Oguri. Abisnya yang dilihatin dari tadi cuma Oguri doank…” tebak Phoo makin asal.
“Baka no onna!!” tukas Oguri.
“Kame… aku dikatain baka…” adu Phoo ke Kamenashi.
“Kayaknya profesor Snape masih dendam waktu di kelas chanoyu.” Tebak Kamenashi yang nggak menghiraukan Phoo. Akhirnya Phoo cuma bisa mupeng ngelihat coklat di tangan Akanishi.
Mereka semua duduk lesehan di koridor depan kelas 3D dengan beralaskan tikar. Setiap murid lain yang lewat slalu ngelempar duit receh ke arah mereka. Abisnya mereka mengira Hima Kurabu adalah anak2 terlantar yang sedang membutuhkan uluran duit receh.
***
Satu bulan udah ujian berlalu…
Tinggal nunggu hasilnya aja…
Anak2 kelas 3D cemasnya bukan maen. Mereka semua ampe nulis doa&harapan diselembar kertas dan digantung di pohon beringin. Permintaan mereka pun nggak 100% beres.
Kamenashi nulis, semoga menjadi penyanyi bersama2 dengan Aka…
Oguri nulis, semoga menjadi atlit lompat tinggi…
Akanishi nulis, semoga bisa slalu bersama2 Kame…
Phoo nulis, semoga bisa menjadi pengantin wanitanya Kame…
Nite nulis, semoga Phoo nggak menjadi pengantin wanitanya Kame…
Lilin nulis, semoga bisa… bingung mo nulis harapan apa? Akhirnya cuma gambar cowo yang mirip Akanishi.
Aan nulis, semoga menjadi istri dokter. *maklum pacarnya sekarang, kan mahasiswa kedokteran.*
Nia nulis, semoga jadi presenter gosip terkenal& peternakan kutunya lancar…
Ratna nulis, semoga usaha batik lancar… *maklum neneknya punya toko batik di Solo*
Dini nulis, semoga nggak ada yang ngutang lagi…
Siti nulis, semoga teman2nya pada kembali ke jalan yang benar…

Setelah mereka nulis harapan di pohon beringin, besoknya anak2 kelas 3D dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan. Pak Asep aja ampe nangis terharu bahagia. Madam Ivan gelar acara syukuran nasi tumpeng segede gaban. Ryan sensei nyiapin pidato buat acara akhir tahun sekolah. Iwan sensei ngundurin diri dari Undian High School&pergi ke Jepang buat ngambil es teler, eh maksudnya S2. Profesor Snape nyiapin ramuan baru bersama Inui.

つづく
Tolong Jangan Diklik...

Hima.028 Jamur Beracun - Biji Kedua

Hari sudah malam banget. Tapi Lilin belum juga menampakkan batang hidungnnya di dalam kamar.

“Lilin kemana sih?” tanya Aan sementara matanya masih menatap ikan koinya Lilin.
“Tadi sih aku liat di dalam kamar mandi.” Jawab Nite sambil makan ice cream.
“Ngapain?”
“Mana aku tau. Aku cuma liat dia diem berdiri di depan kaca.”
“Kacanya nggak retak khan?” tanya Phoo sambil terus nonton MVnya KAT-TUN di HPnya.
“Ya nggak lah. Udah diganti kaca yang anti peluru kok.” Jawab Nite ringan sambil terus makan ice cream padahal udah tinggal sisa-sisanya yang cair yang nempel di tempatnya.
“Lilin di depan kaca? Lama?” kata Aan pelan. Mereka pun berpikir yang nggak-nggak. Karena Lilin berkaca aja udah aneh, apalagi sampe selama ini. Mereka kemudian berlari secepat kilat ke arah kamar mandi. Nite meninggalkan tempat ice creamnya yang sebenarnya masih sisa beberapa tetes. Aan meninggalkan ikan mas koi milik Lilin, padahal dia belum menemukan nama untuk ikan koi itu. Phoo meninggalkan HP-nya yang sekarang sedang menampilkan goyang gergajinya Dewi Persis.
Di depan kamar mandi, mereka bertiga pelan-pelan mengintip ke dalam. Dilihatnya Lilin masih berada di depan kaca.
“Duh, tas pinggangku tambah gede.” Gumam Lilin. “Ini siapa sih yang habis sisiran di sini. Rambutnya pada rontok semua nggak dibersihin.”
Di luar, Aan, Phoo, dan Nite saling berpandang-pandangan. Mereka mengeryutkan alis mata mereka tanda mereka bingung dengan apa yang mereka lihat saat ini.
“Hei, kalian ngapain?” tanya Lilin yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar mandi dengan muka kinclong abis.
“Nggak, nggak ngapa-ngapain kok.” Jawab mereka kompak.
“Lin, kamu pake apa sih?” tanya Aan heran melihat mukanya Lilin.
“Oh, ini krim malam. Tadi ada yang ninggalin di dalam sana. Kadaluarsanya sih bulan ini, tapi nggak papalah, sayang kalau dibuang.” Kata Lilin seraya berlalu melintasi mereka. Tinggallah Aan, Phoo, dan Nite saling berpandang-pandangan.

Besok siangnya, di café Undian HS.
“Gila, pak Hatake kejam banget. Kita beneran disuruh nyari tuh jamur sampai dapat.” Kata Chibi yang sibuk ngukur panjang mie ayamnya.
“Nggak tahu tuh. Apa ya yang ada di kepalanya.” Lanjut Nite yang ngebantuin Chibi megangin penggaris.
“Ssst. Nggak baik ngomongin guru!” kata Phoo dari meja sebelah. Phoo menempelkan jarinya ke mulutnya yang penuh dengan nasi goreng pete setengah mateng.
“Apaan sih. Biasanya juga gimana.” Kata Aan yang duduk di sebelahnya.
“Maksudku, nggak baik ngomongin guru kalau orangnya ada di sebelah kamu.” Kata Phoo sambil menunjuk ke arah bangku sebelah yang udah diduduki oleh tiga orang guru dan salah satunya adalah pak Hatake. Saat mereka menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Phoo, pak Hatake hanya tersenyum kecil sampai-sampai anak-anak nggak tahu kalau dia sedang tersenyum. Ya iyalah nggak tahu, khan pak Hatake pake penutup mulut yang sampe seidung, jadi nggak keliatan. Saking nggak pernahnya tuh penutup idung dibuka. Pak Hatake selalu saja jadi satu-satunya orang yang nggak pernah memesan makanan ataupun minuman di café ini. Tapi entah kenapa setiap kali dia pergi dari café ini, penutup mulutnya selalu basah.
Melihat pak Hatake, mereka cuma bisa membalas senyum yang nggak kalah kecilnya dan mengalihkan pandangan mereka. Kali ini pandangan mereka tertambat pada sebuah sosok mungil yang sedang makan dengan sangat anggun di antara Phoo dan demit, joki yang mereka sewa kali ini.
“Kenapa sih Lilin? Setiap kali jatuh pasti jadi aneh.” Kata Kamenashi dari bangku berbentuk beruang di seberang Aan.
“Nggak tahu.” Kata Aan sambil terus memasukkan nasi putih ke dalam mulutnya yang masih penuh dengan nasi.
“An, kalau makan itu sedikit-sedikit.” Kata Lilin. “Aduh, itu. Nasinya kemana-mana. Kalau makan yang rapi donk!!”
Aan cuma bisa mendelik heran. Sementara anak-anak yang lain nggak kalah herannya. Selain hari ini dia cuma pakai rok pink berenda-renda, rambutnya dikeriting spiral trus pake jepit bunny di poni depannya, dia juga dari tadi komentar terus. Apa aja yang dilihatnya selalu dikomentari. Ada anak pakai sepatu talinya lepas, dikomentari. Ada pak satpam topinya miring, dibenerin sambil ngomel-ngomel. Dini yang nggarisin buku tagihannya nggak rapi, dirapihin. Nia yang kutunya kadang-kadang ngintip keluar, dimarahi. Belum lagi, Iwan sensei yang tadi jalan di depannya tiba-tiba disamperin, trus dinasehati kalau jalan itu jangan mentul-mentul.
Ini anak menarik banget kalau abis jatuh, pikir anak-anak.
Sore ini, sesuai rencana anak-anak, mereka menghadap pak Hatake lagi.
“Pak, kita sudah mencari kemana-mana, tapi kita nggak nemu yang bapak minta.” Kata Kamenashi mewakili teman-temannya.
“Kalian carinya kemana? Anak-anak kelas 3C aja pada dapet.” Jawab pak Hatake sambil menunjuk ke arah tumpukan jamur yang dimaksud. Anak-anak pun kaget melihat tumpukan jamur itu.
“Ya ampun, pak. File-file itu dirapikan donk pak, jangan berantakan kayak gini!” kata Lilin sambil membereskan file-file di atas meja pak Hatake.
“Sekarang bukan saatnya buat itu.” Kata Akanishi ke Lilin cepat.
“Terus, kalian mau gimana?” tanya pak Hatake.
“Kita minta dispensasi…” jawab Kamenashi. Di ujung barisan, Lilin lebih tertarik dengan ballpoint-ballpoint yang berantakan di atas mejanya Prof. Umbridge. Seolah mengerti kalau Lilin akan meluncur ke arah mejanya Prof. Umbridge, Oguri dengan sigap menjulurkan kakinya ke depan kaki Lilin yang memakai sepatu pink berpita silver dengan hak tinggi. Alhasil, saat Lilin melangkahkan kakinya, dia pun tersandung kakinya Oguri. Sebelum idungnya menyentuh tanah, jidatnya terlebih dahulu terbentur mejanya Prof. Snape yang tempatnya tepat di sebelah meja pak Hatake.
Duakkk…
Mendengar suara itu, semuanya langsung menatap ke arah Lilin. Lilin pun bangun dengan benjolan sebesar bola tenis berwarna biru di jidatnya. Melihat itu, Kamenashi pun menahan ketawa dan mengelus benjolan sebesar bola golf di kepala bagian belakangnya yang udah mulai kempes.
“Dispensasi kayak gimana?” pak Hatake kembali berkata. Sementara Lilin masih sibuk mengurut jidatnya yang senut-senut.
“Ya, kita minta tugas pengganti saja.” Jawab Kamenashi. Mata Lilin lagi-lagi jelalatan.
“Tugas pengganti?” tanya pak Hatake. Mata Lilin yang shopping kemana-mana itu tertancap pada tumpukan jamur-jamur yang tersusun sangat tidak rapi.
“Iya, pak.” Jawab Kamenashi. Lilin pun melangkahkan kakinya ke arah tumpukan jamur itu. Kali ini Oguri nggak mau menghalangi, karena dia masih merasa bersalah dengan kejadian sebelumnya.
“Baiklah. Kalian maunya tugas kayak gimana?” tanya pak Hatake sekali lagi. Sementara Lilin sudah berada di depan tumpukan jamur-jamur itu dan mulai menyusunnya menjadi menara.
“Bagaimana kalau kita disuruh buat laporan saja?” tawar Kamenashi. Lilin yang sudah selesai menyusun jamur-jamur itu menjadi menara tujuh tingkat, mulai kebingungan dengan sisa satu jamur yang masih ia pegang. Sesekali ia coba menaruhnya di atas menara jamur buatannya, tapi dia takut nanti malah roboh. Sesekali ia melirik tong sampah di sebelah meja pak Hatake, tapi khan nggak boleh buang-buang makanan. Lilin pun mulai kebingunan sendiri. Harus ditaruh dimana jamur itu. Akhirnya ia pun mengalah dan memilih untuk memakan habis jamur itu. Ia memakan jamur yang nggak enak rasanya itu demi sebuah kesempurnaan bentuk menara tanpa ada yang melihat. Setelah jamur itu tinggal satu suap, barulah Oguri kembali sadar dari rasa bersalahnya dan melihat Lilin sudah hampir menghabiskan jamur beracun itu.
“Jangan dimakan!” teriak Oguri. Anak-anak yang lain bukannya melihat ke arah Lilin yang jadi obyek ucapan Oguri, tapi mereka melihat Oguri dengan keheranan. Heran mendengar Oguri mengucapkan sebuah kalimat perintah. Lilin yang nggak peduli dengan larangan Oguri, langsung menelan potongan terakhir jamur itu. Dan seketika itu juga ia jatuh pingsan…

“Lin…” kata Phoo pelan di hadapan Lilin yang belum juga membuka matanya. Aan dan Nite yang berada di sebelahnya terpaksa harus menutup idung mereka, dan Lilin yang masih pingsan langsung sadar begitu menghirup bau pete hembusan dari mulutnya Phoo.
“Lin…” kata Nite pelan, kali ini Nite lebih memilih menutup mulutnya ketimbang nanti Lilin pingsan lagi. Lilin pun pelan-pelan membuka matanya. Dilihatnya tiga orang malaikat di sekitarnya.
“Ini surga ya…” kata Lilin lirih. “Aku kok udah mati?!! Padahal aku belum selesai donlot film Full House. Aku juga belum nonton film Kuch Kuch Hota Hai.”
“Semua itu ada hikmahnya…” kata Aan sambil tersenyum muanisssss buangetttt…
“Kalau nanti kamu lahir lagi, jangan nakal ya…” kata Nite yang juga tersenyum nggak kalah muanisnya.
“Biarkan teman-temanmu yang melanjutkan perjuanganmu…” kata Phoo yang juga tersenyum suangatt muanisss…
Mendengar dan melihat mereka bertiga, Lilin langsung sadar kalau dia sebenernya ada di neraka bukan di surga.
“Lho, Lin. Udah sadar??” kata Akanishi yang masuk ke dalam sambil membawakan teh hangat.
“Uh, kepalaku pusing…” jawab Lilin sambil megangin kepalanya yang nyut-nyutan. Tangannya nggak sengaja meraba benjolan di jidatnya. “Lho, ini apa?” tanyanya heran.
“Kan tadi kamu jatuh terus kepentok meja.” Jawab Phoo.
“Jatuh kepentok meja? Di jurang mana ada mejanya?” Lilin masih mengelus-elus jidatnya yang tampak kebiru-biruan itu.
“Jurang? Tadi tu khan kamu jatuhnya di ruang guru, bukan di jurang. Jatuh di jurang sih kemarin. Heran, hobi kok jatuh.” Jawab Nite.
“Kapan?” Lilin pun mulai kebingungan sendiri. Ditambah lagi kali ini dia nggak sengaja melihat rok pink berenda-renda, terus rambutnya yang dispiral, lengkaplah sudah syok-nya. Karena Lilin nggak bisa menahan kebingungan yang melandanya kali ini, dia pun jatuh pingsan sekali lagi.
“Tuh kan, hobinya kalo nggak jatuh ya pingsan.” Kata Nite sambil menyelimuti tubuh Lilin sampai ke kepala.
* * *


Tolong Jangan Diklik...

Hima.027 Jamur Beracun - Biji Pertama

Sebenarnya, anak-anak kelas 3 pada bingung. Sebenarnya, dalam satu minggu itu pelajaran IAD ada berapa kali. Dan sebenarnya lagi, kenapa setiap pelajaran IAD gurunya yang tak lain dan tak bukan adalah pak Hatake selalu nggak masuk. Tidak jauh berbeda dengan pelajaran-pelajaran sebelumnya, pelajaran kali ini pun, pak Hatake tidak masuk dengan alasan dia disuruh mengantarkan tamu keliling sekolahan oleh pak Asep.

Satu setengah jam sebelum jam pergantian berdentang, pak Hatake memberikan sebuah tugas kepada anak-anak kelas gabungan, kelas 3D dan kelas 3C. Sebenarnya, jam kelas 3D nanti siang, tapi katanya, pak Hatake ada janji sama dirinya sendiri buat tidur siang, jadi kali ini kedua kelas itu digabung. Tugas kali ini tidak jauh-jauh berbeda dengan tugas-tugas sebelumnya, yaitu mencari jamur beracun yang konon katanya dapat mengubah kepribadian orang. Beberapa anak merasa tugas ini tidak bermutu dan dengan setengah-setengah mereka mencarinya. Namun ada beberapa anak yang sangat antusias dalam tugas kali ini.
Nia, [kalau dimakan Dini, sapa tau dia lupa nagih iuran Kagayaki]
Dini, [kalau dimakan Ratna, sapa tau dia mau minjemin tugas tata Negara Jepang]
Ratna, [kalau dimakan Nia, sapa tau dia mau keramas]
Phoo, [kalau dimakan Nite, sapa tau dia jadi nggak suka lagi sama Kamenashi]
Aan, [kalau dimakan Lilin, sapa tau dia mau beli kosmetikku]
Kamenashi, [kalau dimakan Oguri, sapa tau kosakatanya nambah]
Nite, [kalau dimakan Kamenashi, sapa tau ngapak-ngapaknya ilang]
Oguri, [kalau dimakan Aan, sapa tau dia nggak baka lagi]
Lilin, [kalau dimakan Akanishi, sapa tau lolipopnya buat aku semua]
Akanishi, [kalau dimakan Phoo, sapa tau dia jauh-jauh dari Kamenashi (???)]
Siti, [nggak boleh… punya niat jelek…]
Hatchi… hatchi… hatchi…
Kesebelas anak itu pun mulai bersin-bersin semua gara-gara saling ngomongin dalam hati. Tapi semangat mereka yang membara tidak terpatahkan meskipun mereka harus mendaki gunung dan melewati lembah. Demi dua buah jamur beracun itu, satu buat dikumpulin, yang satu lagi buat dikasi ke teman mereka sendiri sesuai rencana awal mereka, hihihi… tanduk kecil mereka pun mulai bermunculan.
Hari semakin siang, anak-anak berpencar dalam pencarian.
“Kok nggak ketemu-ketemu juga ya… kalau tau gini sih, mending tadi pelajaran aja.” Kata Aan yang sudah mulai lemas.
“Iya ya. Kalau tadi diisi pelajaran di kelas khan, sekarang pasti udah selesai.” Jawab Akanishi yang tubuhnya masih dibalut perban sebadan jadi kayak mumi, gara-gara dua hari ini digebukin terus sama Lilin.
“Sudahlah! Jangan ngeluh terus! Yang semangat!!” kata Nite sambil membuka permen lollipop yang kedua.
“Yang semangat apanya?! Kamu sendiri udah jalannya paling belakang, dari tadi istirahat terus!!” jawab Lilin lalu menoleh ke belakang ke arah Nite. Ketika dilihatnya Nite sedang membuka permen lollipop, dia langsung mundur ke belakang mencoba merebut permen itu. Belum berhasil dia merebut permen itu, Nite sudah terlanjur menyerahkannya dengan ikhlas.
“Nih!!”
“Nggak mau! Udah masuk mulut!!” jawab Lilin sewot. Tapi ekor matanya masih mencuri pandang pada permen lollipop Nite. “Mau donk. Masih ada lagi nggak??”
“Nggak ada. Usaha donk!!” jawab Nite.
“Usaha gimana??” tanya Lilin penasaran. Kemudian Nite menunjuk ke arah tas Akanishi yang sedikit terbuka di depannya. Dari dalam kantong kecil, menyembul keluar tusuk-tusuk lollipop. Dengan pelajaran kilat dari Nite, tangan kecil Lilin pun mulai mempraktekkan ajaran Nite. Pelan-pelan tapi pasti, tangan kanan Lilin merogoh ke dalam tas Akanishi. Pelan sekali, tapi sayang, antena radar Akanishi berbunyi. Dengan sigap, Akanishi menangkap tangan Lilin yang sebenarnya sudah memegang dua batang.
“Hayo!! Ngapain?!” kata Akanishi. Lilin pun cuma bisa cengengesan. Tangan Lilin ditarik keluar oleh Akanishi, dilihatnya dalam genggaman tangan Lilin terdapat dua buah batang lollipop yang benar-benar tinggal batangnya. “Apaan nih?? Kamu makan lollipopku ya!!!”
“Nggak kok. Aku baru mau ngambil kok.”
“Ah, bohong khan kamu!! Ini tinggal batangnya!!”
“Itu, tadi Nite…” jawab Lilin yang udah keringat dingin sambil nunjuk ke arah Nite.
“Apaan sih. Nggak tau apa orang lagi capek, kepanasan, mana nggak becek, nggak ada ojek.” Kata Nite yang melewati posisi mereka berdua sambil menyembunyikan lolipopnya menyusul Kamenashi yang berada di depan Akanishi.
Keributan yang dibuat Lilin dan Akanishi menyebabkan mereka tidak melihat jalan yang mereka lalui. Akanishi yang berjalan setengah mundur tidak tahu kalau di depannya ada sebuah akar pohon ganjen yang menongolkan sedikit bagian tubuhnya. Dengan sangat pas, kaki kiri Akanishi nyangkut di akar pohon itu. Menyadari tubuhnya akan segera tumbang, tangan kanan Akanishi dengan sigap menarik baju Lilin. Kalau saja di depan mereka tidak ada Kamenashi, mereka pasti akan jatuh barengan. Harga diri mereka memang terselamatkan oleh Kamenashi, tapi kepala mereka nggak. Saat mereka hampir jatuh ke depan, kepala Lilin bertabrakan dengan kepala Akanishi. Duakkk… Entah karena kepala Lilin yang kerasnya minta ampun atau apa, kepala Akanishi pun langsung mental ke depan ke arah kepala Kamenashi. Dan strike!! Kepala keduanya pun bertabrakan. Duakkk… Untung aja yang tabrakan cuma kepala mereka, jadi mereka bertiga nggak kena gegar otak, coba kalau lutut…
Kamenashi pun dengan bersungut-sungut marah-marah ke Akanishi.
“Bukan aku! Ini Lilin!!” bela Akanishi.
“Udah lempar aja ke jurang!” kata Kamenashi yang emang lagi sewot gara-gara di kepalanya bagian belakang muncul sebuah benjolan sebesar bola golf.
Glundung… Glundung…
Mendengar suara yang aneh itu, semua mata mencari-cari sumber suara itu. Dilihatnya, Lilin tengah berguling-guling ke bawah ke dalam jurang yang sangat-sangat nggak dalam, paling-paling cuma tiga meter.
“Akanishi!!!” tuduh Kamenashi.
“Bukan aku!!” bela Akanishi. Akanishi pun mempraktekkan ulang kejadian yang sebenarnya. Tadi saat Lilin habis kejeduk kepalanya, dia marah-marah, dia bilang kepala Akanishi kuerasnya minta ampun. Pertengkaran mereka pun berlanjut, saat Lilin mau memukul Akanishi pake tas punggungnya dengan gaya setengah loncat, dengan sigap Akanishi berhasil menghindar, sehingga Lilin cuma berhasil memukul angin bekas posisi Akanishi, dan jurang kecil di sebelah kanan Akanishi menganga meminta tumbal. Ke dalam jurang itulah, tubuh kecil Lilin terpelanting.
Owww… Anak-anak yang mendengar dongeng singkat Akanishi mulai maklum. Sayang dongengnya Akanishi kali ini singkat banget, cuma lima menit, jadi mereka belum sempat menyiapkan popcorn. Sementara tubuh beku Lilin yang membujur kaku di bawah sana, mulai didatangi laler-laler ijo.
“Lilin!!” teriak Phoo yang mulai sadar temannya tergeletak di bawah sana. Mereka semua menghampiri Lilin. Harap-harap cemas anak-anak terlihat di wajah mereka.
Nia, [ayo, berubah lagi jadi feminim, abis ini kita nyalon]
Aan, [mudah-mudahan berubah lagi, trus beli kosmetikku]
Akanishi, [jangan dendam lagi, aku masih kayak mumi nih]
Kamenashi, [jangan berubah lagi, aku eneg]
Siti, [jangan suka mikir yang nggak-nggak ah…]
“Lin, masih idup khan??” kata Nite sambil nusuk-nusuk badannya pake batang pohon dari jarak dua meter.
“Nite, jangan ditusuk-tusuk kayak gitu donk! Emang dia apaan.” Kata Nia yang mulai menggoyang-goyangkan badan Lilin dengan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan plastik. Perlahan-lahan, Lilin mulai membuka matanya. Lilin melihat sekitar dengan sangat perlahan. Awalnya hanya ada cahaya putih yang memenuhi pandangannya. Lama kelamaan satu per satu wajah teman-temannya muncul ke dalam pupil matanya. Ada Phoo, Nia, Ratna, Nite, Siti, Kamenashi, Akanishi, Oguri, dan Dini.
“Lho, mana Aan??” tanya Lilin perlahan. Di ujung sana Aan sedang berdiri dengan handphone menempel di telinga kanannya.
“Lho, Lin. Kok udah bangun?! Pingsan lagi sana. Aku baru manggil ambulance nih.” Aan sudah menemukan satu cara supaya dia bisa ngeceng lagi di RS.
“Gak sopan!!” kata Lilin sambil bangkit berdiri. “Aaaaaaaaaaaa” teriak Lilin tiba-tiba membuat semua temannya kaget.
“Ada apa?” tanya mereka.
“Kok aku kotor banget??” tanya Lilin heran melihat tubuhnya cemong-cemong tanah.
“Ah kirain ada apa. Ya iyalah kotor. Kamu khan baru aja jatuh dari sana.” Kata Akanishi sambil menunjuk ke arah atas. “Bukan aku lho yang dorong kamu. Kamu jatuh sendiri!”
“Iya aku tau.” Kata Lilin lemas sambil menatap pakaiannya. Sepanjang perjalanan Lilin diam seribu bahasa. Anak-anak yang lain mulai curiga ada sesuatu yang terjadi padanya.
Hari sudah mulai malam, tapi mereka belum juga menemukan jamur beracun yang dimaksud pak Hatake. Akhirnya mereka pun menyerah, dan pulang ke asrama. Mereka pasrah dapat hukuman aneh apa lagi.
* * *


Tolong Jangan Diklik...

Hima.026 Rahasia Terbesar Profesor Snape

“KEBAKARAN!!!” teriak Phoo bikin seluruh penghuni asrama kaget.
Duak… duak… duak…
Derap langkah berjejalan masuk dalam kamar Phoo.

Aan ngebawa ember berisi air…
Nite ngebawa selang berisi air selokan...
Lilin ngebawa baskom berisi air sajin…
Ratna ngebawa sekotak garam…
Nia ngebawa karung goni basah…
Dini ngebawa kalkulator buat ngitungin berapa kerugiannya...?
Siti ngebacain mantra buat memadamkan api.

“Ada apa?” tanya Ratna panik.
“Mana apinya?” panik Nite siap2 mo nyemprot pake selang.
“Kebakaran…” polos Phoo.
“Mananya kebakaran?” Aan bingung, coz nggak ada asap sama skali di kamar.
“Di koran…” sahut Phoo polos sambil ngasih lihat koran daily propet.
“Phoooo!!!!” teriak mereka kompak antara gemas dan marah.

Ruang makan di asrama timur…
“Itu baksoku!” ujar Phoo yang nggak terima satu baksonya diambil paksa Akanishi.
“Pelit banget, sih! minta satu, dunk…” mupeng Akanishi.
“Nggak mau! Kalo satu bakso diambil, ntar perhitunganku tentang satu porsi jadi kacau!!” Phoo teteeep kekeh mempertahankan baksonya. *kok tuh kata2 familiar banget ya diotakku. Mikir serius.*
“Pelit….” Manyun Akanishi.
“Nih, ambil aja baksoku.” Lilin ngasihin semua baksonya ke mangkok Akanishi.
Akanishi berbinar-binar ceria kayak anak kaecil yang dapat sekotak permen lollipop.
“Tumben?” bingung Oguri yang duduk tepat di sebelah Phoo.
“Apanya yang tumben?” Lilin balik nanya.
“Biasanya, kan kamu lebih pelit dari Phoo soal makanan.” Olok Oguri.
“Oh, aku nggak mau aja ngelihat dua temanku berantem gara-gara rebutan makanan.” Ngeles Lilin. Beralih menggigit sedotan.
“Kalo gitu besok-besok nggak usah berantem gara-gara rebutan lollipop lagi, ya…” Kamenashi nambahi.

“Ada gosip baru.” Kelakar Nia yangdatang bareng Ratna. Menghampiri meja makan.
“Apa??!!” penuh semangat dari yang lain.
“Ayo, tebak kira-kira apa? Ayo…” Nia ngajak maen tebak-tebakan lagi.
“Ada clue-nya nggak?” sahut Nite semangat.
“Boleh minta bantuan nggak?” sahut Aan lebih semangat lagi.
“Boleh duo lirik nggak?” sahut Phoo yang akhir-akhir ini lagi hobi nonton ‘Kehilangan Lirik.’
“Kalo gitu aku minta puzzle lirik aja, deh…” sahut Akanishi.
“Oh, no no no no… nggak ada bantuan…” Nia ngejawab centil.
“Apaan donk?!” kompak yang laen.
“Tadi aku abis ketemu ama Inui si asisten profesor Snape.”
“Kenapa? Inui dipecat, ya?” asal Nite.
“Pasti Inui ketauan korupsi.” Tebak Dini yang paling anti ama korupsi.
“Jangan-jangan Inui nyuri salah satu ramuan profesor Snape!” tebak Phoo makin asal.
“Oh, aku tau… pasti Inui disuruh ngegantiin profesor Snape buat ngajar kelas chanoyu.” Tebak Akanishi yang nggak kalah asal.
“Udah… jangan ngomongin orang…” pinta Siti yang paling anti soal ngegosip.
“Semuanya salah!” Nia ngasih tanda silang dengan tangannya.
“Trus apaan, donk???!”
“Kata Inui, professor Snape berhasil ngebuat ramuan baru. Kalo nggak salah namanya teh kejujuran. Hanya dengan tiga tetes aja bisa ngebuat kita berkata jujur.” Nia bergidik ngeri.
“Masa sih?”
“Tapi tuh ramuan belom pernah dicoba. Malahan aku dengar dari Inui, kalo yang bakal jadi kelinci percobaannya adalah Oguri. Tapi, besar kemungkinan kita semua juga bisa jadi…” Nia nggak ngelanjutin gosipnya lagi.
“Lho??! Kalo Kame sih emang keturunan Jepang-Sunda. Emang Oguri keturunan kelinci, ya?” polos Phoo.
“Baka!”
“Oguri ya keturunan orang tuanya, donk!” sahut Nite.
“Sugeeee!!!” sahut Oguri ngasih tiga jempol.
“Oguri… besok di kelas profesor Snape jangan bikin ulah.” Saran Kamenashi bijak.
***
Di kelas chanoyu…
Anak-anak kelas 3D tegang dan ngeri. Perasaan setiap kali kelas chanoyu pasti deh bakal terjadi ketegangan. Antara hidup segan, mati pun enggan.
Profesor Snape masuk ke kelas chanoyu dengan tatapan berbeda. Apa, ya? Pokoknya berbeda dari biasanya. Senyum!!
Anak-anak kelas 3D bukannya senang ngelihat senyum profesor Snape, malahan makin ngeri dan takut. Mending ngelihat tatapan profesor Snape yang mengerikan. Lebih normal diotak anak-anak kelas 3D.
“Hari ini tidak ada praktek chanoyu. Saya ingin speak-speak dari hati ke hati sama kalian.” Ujar profesor Snape ramahnya minta ampun. Ngeluarin cangkir teh dan menuangkan teh. Trus ngasihin ke tiap anak.
“Sitsureishimasu…” Toma-san si native melongokkan kepala ke kelas chanoyu. “Chotto hanashitain no desuka?”
“Hai.” Sahut profesor Snape padat, singkat, dan jelas banget.

Kurang lebih sekitar enam menit profesor Snape pergi ninggalin kelas chanoyu. Ketegangan pun makin bertambah saat profesor Snape kembali dengan sebuah senyum yang bagi mereka nakutin banget.
“Ayo, tehnya diminum dulu…” suruh profesor Snape ruamah buanget. Profesor Snape pun minum tehnya dengan penuh wibawa.
Penuh ketegangan anak-anak kelas 3D minum tehnya. Berharap setelah minum ni teh nggak bikin mereka sakit perut ato pun amnesia sesaat.
“Bagaimana rasanya?” tanya professor Snape.
“Enak…” jawab Kamenashi takut-takut mewakilin teman-temannya.
“Phoo…” panggil profesor Snape ramah.
Bikin Phoo gemetaran. Tiba-tiba aja kayak ada gempa di sekitar kakinya. Kesemutan...
“I-i-iya… pro-fe-sor Sna-pe…” Phoo terbata-bata. Maklum, Phoo paling takut ma guru yang satu ini.
“Kenapa memilih kelas Jepang?”
“Ke-ke-kenapa?”
“Iya, kenapa?” nada bicara professor Snape masih ramah.
“Karna Kame memilih kelas Jepang. Jadi, saya juga memilih kelas Jepang. Hehehe…” senyum tanggung Phoo. Nggak usah ngomong pun semua orang juga udah tau alasan Phoo dan Nite milih kelas Jepang, kan karna Kamenashi.
“Hmm…” profesor Snape angguk2 kepala. Sepertinya ramuan teh kejujurannya berjalan lancar. Ia nggak sengaja ngelihat Oguri.
“Oguri…” panggil profesor Snape masih ramah.
Oguri hanya menatap dengan cool.
“Apa kamu merasa keberatan tiap kali saya menghukummu lompat tinggi?”
“Tidak.”
“Oh, jadi kamu suka kalau saya menghukummu lompat tinggi?”
“Tidak juga.”
Raut wajah professor Snape mulai berubah. Cepat-cepat ia redam.
“Justru saya yang ingin tanya… kenapa profesor Snape begitu suka menghukum saya lompat tinggi?” tanya Oguri masih dengan gayanya yang cool.
“Itu karna ayahmu seorang atlit lompat tinggi yang berbakat. Berbagai turnament telah dimenangkannya. Malahan ayahmu dengan sangat gampangnya bisa masuk ke universitas terkenal tanpa tes. Makanya itu saya ingin melihatmu berhasil menjadi atlit lompat tinggi.” Jelas profesor Snape nggak sadar.
Seisi kelas menatap profesor Snape antara percaya dan nggak percaya.
“Oh, apa yang saya bicarakan?” tanya profesor Snape pada dirinya sendiri yang udah sadar.
Seisi kelas masih menatap profesor Snape dengan bengong.
“Apa profesor Snape mengenal kedua orang tua saya?” tanya Oguri lagi.
“Iya. Saya bersahabat baik dengan ibumu. Ibumu slalu menolong saya saat sedang diganggu oleh ayahmu dan teman-temannya. Tapi, karna suatu kesalahan saya telah merusak persahabatan yang indah ini. Oh, apa yang saya katakan?” profesor Snape nutupin mulutnya pake tangan. “Apa kalian memasukkan sesuatu ke dalam minuman saya?” geramnya.
“TIDAK!!!” kompak anak-anak kelas 3D.
“Bagaimana kedua orang tua saya bisa meninggal?” tanya Oguri makin penasaran. Karna slama ini Oguri tinggal dengan kakak ibunya yang galaknya minta ampun. Belom lagi sepupu gendutnya yang bandel dan suka ngegangguinnya.
“Orang tuamu meninggal karna melindungimu dari kecelakaan. Mereka telah mengorbankan cinta kasihnya hanya untuk melindungimu. Hanya kamu yang satu-satunya selamat dalam kecelakaan tersebut. Apa lagi yang saya katakan ini?” geram profesor Snape yang nggak bisa ngehentiin mulutnya yang trus nyerocos bicara.
Profesor Snape pergi ninggalin kelas chanoyu dan ngurung diri di dalam ruangannya. Malu!
“Oguri… ternyata orang tuamu begitu menyayangimu…” tangis sedih Akanishi yang airmatanya udah dapat satu baskom.
“Aku nggak tau ternyata kisah idupmu pahit banget…” tangis sedih Aan sambil ngapus ingus.
“Kalo pahit dikasih gula donk…” sahut Phoo yang lemotnya makin lemot.
Nite langsung ngebungkem mulut Phoo agar nggak berceloteh yang nggak mutu. Lilin langsung ngejejalin permen lollipop ke mulut Phoo biar diam.
“Profesor Snape nggak sejahat apa yang kita kira.” Ujar Ratna.
“Hati profesor Snape ternyata baik banget, ya…” Dini buka suara.
“Kalian jangan ngomongin orang terus. Ayo, bertobatlah…” pinta Siti sambil menengadahkan tangan ke atas.
“Nggak salah pak Asep milih kaki tangan seperti profesor Snape.” Nia tersenyum puas banget.
“APA???!!”
“Tadi kamu bilang apa? Kaki tangan pak Asep?” ulang Kamenashi yang ngerasa salah dengar.
“Profesor Snape, kan kaki tangan pak Asep. Emang Phoo nggak pernah certa, ya?” heran Nia yang dapat ni gosip dari Adit.
Semuanya menatap Phoo dengan tatapan lebih ngeri dari tatapan profesor Snape.
“Aku belom pernah cerita, ya?” Phoo ngejawab enteng sambil ngemut lolipop.
“Phooo!!!!”
“Hehehe…” senyum Phoo sambil garuk-garuk kepala.
***
Pasti mau tau, kan kenapa profesor Snape bisa ngomong jujur gitu… ceritanya sih agak panjang. Mungkin bisa ampe tujuh hari tujuh malam. Tapi, tenang aja bisa dicompress, kok…
Setelah Nia ngegosip kalo besar kemungkinan anak-anak kelas 3D juga bakal jadi kelinci percobaannya profesor Snape, semuanya langsung nyusun taktik.
Nia dan Ratna ditugaskan buat ngerayu Inui agar bisa dikasih sedikit ramuan teh kejujurannya. Kamenashi dan Akanishi ngerayu Toma-san agar mau kerjasama dan minta agar ngobrol bentar dengan profesor Snape pas pelajaran berlangsung. Aan dan Lilin metik daun teh di kebun belakang sekolah. Phoo dan Nite menyeduh teh. Dini jaga benteng biar nggak dimasukin musuh. Sedang, Siti bantu doa aja.

“Sitsureishimasu…” Toma-san si native melongokkan kepala ke kelas chanoyu. “Chotto hanashitain no desuka?”
“Hai.” Sahut profesor Snape singkat, padat, dan jelas banget
Profesor Snape keluar kelas, dan aksi pun mulai dilancarkan. Teh dalam cangkir dibuang dalam baskom yang udah mereka bawa dari asrama. Menggantinya dengan teh buatan Phoo dan Nite. Teh dalam cangkir profesor Snape dimasukan ramuan teh kejujuran sebanyak tiga tetes.
Ternyata misi dan taktik licik anak-anak kelas 3D berhasil dengan nilai memuaskan. Perfecto!!! Bravo!!!!

つづく
Tolong Jangan Diklik...